Tampilkan postingan dengan label Sepulu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sepulu. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Maret 2018

CERUAN (Cerita Pendek Tak Bertuan)

“SEMANIS BONGKOU”
Asmara yang Terpenjara di Pelataran Multimedia

Oleh: A.N. Sabiyasa

 “Hai Vi..!!” suara Jaka bergetar dengan tatapan mata tetap menunduk. Sambil duduk dan sesekali mengayun-ayunkan sepasang kakinya untuk mengalihkan rasa grogi yang kian memuncak.
“Ia, ada apa, Jaka..?!” sahut Vivi seraya menatap wajah Jaka yang masih menunduk itu dengan penuh tanya.
“Maafkan aku. Kau terlalu indah Vi.., dari ujung rambut hingga ujung jemari kakimu” Jaka mulai memberanikan diri mengangkat wajahnya dan membalas tatapan Vivi.
“Ah.. lebay kamu.. mana rambutku? Mana kakiku?. Bukankah rambutku tertutup kerudung, kakipun lagi pake sepatu..!” jawab Vivi sambil berdiri memberi isyarat dengan memegang kepala yang terbalut kerudung dan menunjuk sepasang kakiny ayang masih tertutup sepatu hitamnya.
“Hehe iya ya... tapi meskipun rambut dan kakimu tertutup tetap aku bisa membayangkannya, karena rasaku melampaui itu semua, Vi..!?” Jawabnya sambil berdiri, kini mereka berdua sama-sama berdiri. Si Jaka dengan gaya serius, si Vivi tetap dengan respon yang dingin.
“Vivi.. Izinkan aku melukis dirimu, untuk bisa kunikmati sendiri lukisannya. Kamu terlalu indah untuk juga dimiliki lelaki lain. Telah kusiapkan kuas yang khusus. Ujungnya memang tajam mengkilat, dan tak perlu cat jenis apa pun untuk melukis dirimu, tapi jika kau masih juga tidak mau mengerti, niscaya darahkulah yang akan menjadi catnya..!” Jaka menimpali dengan tetap melancarkan rayuan mautnya.
“Cie.. cie.. cie... kamu itu ya, dasar laki-laki, mainnya cuma di kata-kata. Lebaynya pun minta ampun..! mengerikan, Jak..!. Kayak anak zaman sekarang, sedikit-sedikit main corat-coret lengan dengan pisau atau kaca hingga berdarah-darah, wuih...!!” Ujar Vivi dengan tanggapan yang tetap hambar, maklumlah Vivi ini adalah tipe cewek yang sedikit keras kepala, pola pikirnya beranjak dewasa, tak mudah terpesona oleh rayuan apalagi hanya dengan kata-kata puitis.
***
Percakapan tak seimbang antara Jaka dan Vivi tersebut, tidak hanya terjadi sekali dua kali, bahkan sudah beberapa kali. Lama kelamaan membuat Jaka berpikir dua kali untuk merayu Vivi dengan kata-kata lagi, bak pisau hendak mematahkan baja. Sulit..!!
Akhirnya dia berpikir ulang, bagaimana cara mengungkapkan rasa cinta di hatinya pada Vivi. Jadi sekali lagi, dia tidak sedang putus asa, hanya berpikir strategi jitu yang mungkin bisa meluluhkan hati Vivi.
“Oia.. mungkin melalui pihak ketiga, meminta bantuan teman-teman dekatnya untuk mengungkapkan perasaanku. Ah...! ini tidak gentle..! masak laki-laki masih menggunakan pihak ketiga, alih-alih sukses, malah kemungkinan pihak ketiga tersebut yang akan dapat nangkanya, aku dapat getahnya. Biasanya pihak ketiga berubah jadi Mak Jomblang; ekala’ dhibi’..” Jaka merenung diteras rumahnya sambil menikmati temaram jingga sang surya di ufuk barat, memikirkan dan mencari cara untuk meluluhkan hati Vivi.
Tiba-tiba ia dikejutkan kucing miliknya yang tiba-tiba meloncat dan merebahkan diri dipangkuannya, membuyarkan lamunannya sore itu. Dengan refleks ia mengelus sayang si kucing itu, sontak kucing tersebut semakin manja di pangkuan Jaka dengan mlungker di atas haribaannya.
Kini lamunannya berganti, dari memikirkan Vivi berubah merenungi si Kucing. Wah...!, lamunan kelas kakap ini. Sekilas tentang kucing, hewan tersebut datang sendiri ke rumahnya, mungkin karena di buang oleh pemilik sebelumnya, atau mungkin kesasar, atau jangan-jangan kucing kiriman dari Tuhan untuk menemani Jaka saat kesepian. Entahlah...!
Kucing tersebut awalnya galak, beringas, dan tidak jinak. Tapi berhubung setiap waktu dan rutin, Jaka selalu memberi makanan kesukaannya, khususnya ikan laut, dan selalu mengelus-elus si kucing. Meskipun jarang Jaka berbincang-bincang dengan kucing piaraannya tersebut, tapi kasih sayangnya pada kucing selalu ditunjukkannya dengan sikap dan perilaku sebagai bentuk perhatian, akhirnya kucing tersebut mulai jinak dan manganggap si Jaka sebagai tuannya. Setiap Jaka duduk santai di teras rumahnya, kucing tersebut mendekat lalu tidur-tiduran di pangkuan Jaka.
“Nah... itu dia, ada isyarat baik ini... Jika aku memperlakukan kucing liar ini dengan sikap dan perilaku baik mampu merubah liarnya menjadi Jinak, kenapa tidak aku gunakan untuk mendekati Vivi ya...??” tiba-tiba terlintas sebuah strategi PDKT di benaknya.
***
Dengan semangat baru, wajah ceria, dengan balutan senyum bergairah, Jaka beranjak dari duduknya sambil menggendong itu si kucing, menimang sayang layaknya bayi di gendongan, seraya bernyanyi lembut lirik lagu India “Rab Ne Bana De Jodi” kesukaannya. Seperti ada wangsit yang tak sabar ingin dia terapkan dan segera laksanakan. Rencana ikhtiar dan akan mencoba menggunakan strategi yang baru dia dapatkan, siapa tau mampu meluluhkan hati Vivi sebagaimana yang telah dia lakukan pada si Kucing. Kucing adalah hewan, manusiapun juga termasuk hewan. Bedanya, kalau kucing adalah hewan yang tak berakal, sedangkan manusia adalah hewan yang berakal dan dapat berbicara. Vivi adalah manusia, dia punya akal. Masak setingkat kucing yang tak berakal bisa luluh, apalagi setingkat Vivi. Kemungkinan bisa luluh juga nantinya.
Lama menimang dengan iringan nyanyian si Jaka, suara dengkur kucing semakan lama semakin keras, sepertinya nyenyak sekali tidurnya kucing tersebut di gendongannya. Perlahan ia letakkan dilantai, kucingpun terjaga, seraya mengerak-gerakkan ekornya sembil menyerudukkan kepalanya pada betis Jaka menandakan kucing tersebut masih ingin berlama-lama digendongan Jaka.
***
Hari sudah mulai gelap, adzan maghrib berkumandang. Jaka seperti biasa melaksanakan rutinitas petangnya dengan berkemas dan bergegas ke mushalla untuk shalat maghrib dan ngaji Al-Qur’an pada Ustadz ngajinya. Maklum dirinya termasuk anak rajin di kampungya, tipe serius menyikapi sesuatu, tidak neko-neko, baik dalam urusan belajar hingga dalam urusan asmara.
Sehabis shalat Isya berjamaah dengan ustadz dan teman-temannya yg lain di mushalla lalu ia pulang, makan malam bersama keluarga, mempersiapkan pelajaran besok dan menelaahnya kembali untuk menjaga kemungkinan ada tugas rumah dari guru di sekolah yang belum sempat terkerjakan.
Setelah semua beres, segera ia menuju pembaringan untuk istirahat. Tumben biasanya Jaka masih keluar sebentar untuk sekedar nongkrong dengan teman-temannya di gardu samping rumahnya. Malam tersebut, hasrat yang demikian tidak ada. Ia lebih memilih langsung tidur, apa mungkin ia tak sabar menunggu mentari esok hari, atau ingin cepat-cepat ke sekolah dan bertemu pujaan hatinya. Entahlah..!
Merebahkan badan di atas kasur, meletakkan kepala di atas bantal, miring memeluk guling, membaca doa sebelum tidur, memejamkan mata, lalu terlelaplah ia dalam tidur.
***
 “Astaghfirullah....!! kenapa dengan kucingku..??” ia tersentak dan terbangun dari tidurnya lalu duduk seraya membaca doa bangun tidur. Melihat jam di dinding, ternyata masih menunjukkan jam 03.50 pagi. Rasa kantuk sudah tiada, dan sayup-sayup La-Sola terdengar dari masjid seberang. Udara masih dingin, rasanya masih enak kalau dilanjutkan tidur. Namun akhirnya ia putuskan untuk beranjak bangun, menuju kamar mandi untuk persiapan shalat shubuh.
Dalam perjalanan menuju kamar mandi, ia setengah mencari kucing yang sempat hadir dalam mimpi tidurnya.
“Oh itu kucingku.. rupanya masih tidur nyenyak..!” Jaka melihat kucingnya masih mlungker mendengkur di shofa ruang tamu. Sedikit lega terobati setelah sempat khawatir telah terjadi apa-apa dengan kucingnya.
Setelah shalat shubuh dan langit sudah mulai terang, ia lakukan aktifitas rumah seperti biasa. Membereskan tempat tidur, membantu ibu menyiapkan sarapan pagi keluarga di dapur meskipun dirinya anak laki-laki, menyapu, dan mencuci pakaiannya sendiri.
Pekerjaan rumah selesai, sehabis mencuci pakaian, mandi, ganti pakaian seragam sekolah, dilanjutkan sarapan pagi bersama keluarga, lalu ia pamit pada ayah ibu salaman cium tangan mereka berdua dan berangkat ke sekolah.
***
Sebelum masuk di lingkungan sekolah, Jaka istirahat sebentar sambil duduk di gardu luar pintu gerbang sekolah. Lalu muncullah temannya, ia bertemu dengan teman kelasnya yang juga baru datang. Namanya Lihun, nama lengkapnya Shalihun, namun teman-temannya biasa memanggilnya “Caesar Lichun” yang dinisbatkan pada Kaisar yang murah hati dan ikhlas selalu memberi dan berbagi pada teman-temannya. Dia satu jenjang kelas dengan Jaka, tapi beda ruang. Lihun kelas IX B, dan Jaka kelas IX A.
“Hai Jaka..! ini aku bawa sesuatu untukmu, hari ini khusus untukmu..!” ucap Lihun seraya merogoh tas ransel yang tertaut di pundak kirinya.
“Oyah...! bagus tuh...! kamu memang sahabatku yang top-markotop, Hun..!” seloroh Jaka menyambut niat baik hati si Lihun.
“Aku berikan padamu disini di luar sekolah, agar tidak diketahui teman-teman yang lain. Bukan karena apa, aku membawanya terbatas, Cuma dua ni..! aku satu, kamu satu...” Ujar Lihun sambil mengeluarkan dari tasnya, menyodorkan satu bungkusan yang ada di tangan kanannya pada Jaka, dan tangan kirinya tetap memegang yang satunya lagi.
“Wah apa ini...?! kayaknya aromanya aku kenal deh..!” kata Jaka seraya menciumi bungkusan dari Lihun.
“Ia, itu Bongkou namanya, jajanan khas Arosbaya, tadi pagi aku dapat dari Ayah yang kebetulan pagi-pagi pergi ke pasar Arosbaya, sekalian aku nitip itu pada ayah. Nah, mumpung masih ada waktu, gimana kalau kita makan dulu di sini? Gak enak ama teman-teman yang lain, nanti disangka aku pilih kasih” Diplomasi Lihun agar Jaka mau menerima tawaran dirinya untuk makan bersama di gardu luar, beberapa meter dari sekolah.
“Aduh..! mohon maaf sebelumnya, Lihun!. Bukan aku gak mau menghormati maksud baikmu untuk makan bersama di sini. Aku masih kenyang nih dengan sarapan pagi tadi, gak ada tempat kayaknya di lambung ni...!” jawab Jaka seraya mengelus-putar perutnya menunjukkan bahwa dirinya masih kenyang.
Gak apa-apa ya..?! aku tetap terima hadiah terindahmu pagi ini, nanti istirahat akan ku makan, kalau perlu bungkusnya akan kumuseumkan nanti di rumah sebagai bukti hadiah dari teman sejati” sahut lebay Jaka untuk menangkis diplomasi Lihun.
“Ah kamu..! paggun bheih...! lebay tingkat dewa..! gak usah segitunya lah.. biasa aja, gak perlu kau museumkan bungkus Bongkounya di rumahmu. Kalau misalnya kamu masih kenyang ya gak masalah tidak ikut serta menyantapnya disini bersamaku. Ingat ya.. gak usah dimuseumkan bungkusnya.... Bahkan kalau kau tidak selera misalnya, boleh kau sedekahkan kembali ke orang lain. Intinya Bongkou itu apa ca’eng kakeh..!, Jaka..!!” Ujar Lihun menimpali.
“Baiklah kalau gitu, terima kasih banyak ya... Selamat menikmati untukmu.. maaf aku tinggalkau kau sendirian..” ucap Jaka pamitan seraya memasukkan Bongkounya ke dalam tas yang dia gendong.
***
Jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya menunjukkan jam 06.50 WIB. Sepuluh menit lagi bel berbunyi sebagai tanda masuk kelas. Di depan pintu kelas Jaka berpapasan dengan Vivi. Mereka berdua hampir bertubrukan, lalu sama-sama berhenti, sama-sama mundur satu langkah. Sepasang mata mereka saling menatap, sunyi, senyap tanpa suara. Seolah-olah ada kekuatan yang menahan mereka untuk berhenti dan tidak saling mendahului berebut masuk ruangan. Di hati masing-masing, ada beribu kata tapi tak mampu terucapkan, hati mereka sama-sama bergetar. Dag dig dug ser...! jantung mereka pun sama-sama mendesir memompa kencang darah untuk untuk lekas mengalir. Duh..! Bede apa jeh..!?
“Silahkan masuk..!! kamu dulu yang masuk!” ujar Vivi memecah kesunyian mempersilahkan Jaka untuk masuk ruangan lebih dulu.
“Oh, tidak Vi..! dari jarak kita ke daun pintu tadi, engkaulah yang lebih dekat dengan pintu. Kita budayakan antri, siapa yang lebih dulu, ya dia yang dapat kesempatan. Silahkan kamu duluan, silahkan masuk!” sahut Jaka seraya menunduk mempersilahkan Vivi masuk bak mempersilahkan Sang Ratu.
“Ah.. kamu Jak..! tumben kau bijak hari ini, mimpi apa semalam dikau itu...? atau jangan-jangan sifat lebaymu mulai kambuh...hehe..” jawab Vivi seraya mengibaskan buku yang sedang dia pegang ke arah wajahnya, sehingga menimbukan angin yang menerpa wajah Jaka membuyarkan setengah lamunannya.
“Ayo Jaka...! sebentar lagi Bel berbunyi, guru datang dan masuk kelas. Apakah kita akan tetap berdiri disini di depan pintu dengan keangkuhan kita masing-masing!? Dan menghalangi guru masuk ke kelas!?. Udahlah kamu masuk duluan, lagian kamu tahu sendiri kan, bahwa laki-laki itu gak boleh berjalan di belakang perempuan lho...! makanya kamu dulu yang masuk sana, aku menyusul dibelakangmu nanti.. Okkay..!” papar si Vivi bersikukuh dengan sikapnya.
“Baiklah Vi...! hari ini aku setuju denganmu, tapi mungkin lain kali tidak, hem..!” jawab Jaka singkat, seraya merogoh tas miliknya dan mengambil sesuatu. Ya, mengambil bungkusan Bongkou hasil pemberian temannya, si Lihun, lalu menyodorkannya pada Vivi. Refleks Vivi menerima dengan tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya masih memegang buku. Saat serah terima bungkusan Bonkou itulah, Teeeeettttttt..! bel masuk kelas berbunyi.
“Apa ini Jak..!?” tanya Vivi penasaran sambil menelisik bungkusan yang barusan ia terima.
“Untukmu, dariku padamu. Simpan saja di tas, cek lagi nanti pas istirahat” jawab Jaka singkat seraya melangkahkan kaki masuk kelas, di ikuti Vivi menyusul dibelakangnya yang kepo memasukkan cepat-cepat bungkusan tersebut ke dalam Tasnya. Khawatir ketahuan guru, kalau ketahuan bisa berabe, dan tentu Baper.
Selang beberapa lama, datanglah guru jam pelajaran pertama. Masuk kelas, salam, doa bersama, menyanyikan lagu Indonesia Raya, membaca sebagian surat-surat pendek, mengabsen, review pelajaran minggu lalu, menjelaskan garis-garis besar materi dan seterusnya.
Selama pembelajaran berlangsung, Vivi yang duduk berada di deretan bangku tengah barisan ke tiga, sesekali bahkan sering memperhatikan Jaka yang kebetulan duduk di bangku barisan paling depan. Masih dirundung penasaran dengan perubahan mendadak yang terjadi pada temannya itu, ya si Jaka. Sejak beberapa hari terakhir, Vivi melihat Jaka lebih rendah hati, lebih banyak mengalah, dan tidak egois. Biasanya si Jaka sering menyerobot antrian, entah di kantin ataupun ketika hendak masuk kelas. Anehnya lagi, tumben ia mau berbagi, padahal jarang Vivi menemukan sifat murah hati pada diri Jaka, biasanya stell chuek’s berkenaan dengan camilan atau makanan misalnya, jarang sekali menawarkan ke teman-temannya. Begitulah kecamuk di dalam pikiran Vivi.
Saat pembelajaran berlangsung, eh.. Vivi malah tak habis pikir dengan gaya berbeda yang ditampilkan oleh si Jaka yang duduk di depan dengan tenang dan khusuk memperhatikan penjelasan guru. Lha wong biasanya duduk di belakang sambil tidur-tiduran dan kadang tidur beneran.
***
Sudah tiga hari pasca kejadian “serah terima” Bongkou di depan pintu itu terjadi. Bagi Vivi, si Jaka benar-benar banyak perubahan. Awalnya Vivi mengenal Jaka sebagai cowok yang super lebay, apa lagi terhadap dirinya. Kini sudah mulai berubah, jangankan merayu dengan kata-kata mutiara indah, berbicara biasa pun dalam tiga hari ini sepertinya tidak pernah. Ia tampak jarang bergabung dengan teman-teman perempuannya yang lain, lebih banyak menghabiskan waktunya di perpus, baca-baca buku atau sekedar bergitar ria dengan teman-teman lelakinya. Latihan futsal atau basket ball di halaman sekolah, saat istirahat atau setelang pulang.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, perubahan pada diri Jaka semakin tampak, khususnya dari pergaulan sehari-hari di lingkungan sekolah. Jaka lebih sering tampak menyendiri, sesekali main gitar dengan alunan lagu-lagu mesra yang dia alunkan di bawah pohon keres depan Multimedia.
Nah... saat seperti inilah, pada diri Vivi seperti ikutan berubah, ada sekelebat rindu akan kekonyolan bahkan ke-lebay-an Jaka, ya kangen gaya-gaya Jaka yang dulu, diskusi dengan ego masing-masing sehingga sama-sama tidak mau kalah. Vivi jadi rindu itu semua.
“Jaka..! ada apa denganmu, hah..??!!” gumam Vivi dalam hati merenung sendiri, sambil duduk sendirian di teras kelas memperhatikan Jaka di bawah Pohon Keres sana yang sedang membawakan lagu India “Tum Hi Ho” dengan petikan dawai gitar yang ia mainkan.
Dipikir lama dipikir, direfleksi ke beberapa minggu sebelumnya, tiba-tiba Vivi terantuk pada sebuah peristiwa tempo hari. Yach.. peristiwa terakhir di depan pintu kelas, peristiwa diskusi singkat namun debatabel dengan egoisme masing-masing.
“Apa aku telah melakukan kesalahan padanya ya..??!” pikir Vivi semraut sambil mengeryitkan dahi mencoba mengingat kembali peristiwa yang telah lalu.
“Apa karena aku tak mau kalah saat diskusi singkat di depan pintu ya... atau karena aku lupa tak berterima kasih atas pemberian Bongkou darinya ya.. atau...” Tiba-tiba Vivi teringat pada peristiwa sebelumnya. Jaka pernah merayu dirinya dengan gaya lebay, meski tak mengungkapkan asmara secara jelas ketika itu, tapi Vivi mersponnya dengan dingin bahkan sedikit meremehkan.
“Apa karena rayuan yang ku bilang lebay itu ya...!!??” pungkasnya mengakhiri lamunannya karena bel istirahat telah berbunyi dan ia langsung menuju kantin dengan teman-temannya.
***
Sudah lima bulan lebih, perubahan sikap Jaka di mata Vivi, begitu pula sebaliknya, sikap Vivi di mata Jaka, akhirnya mereka sama-sama terbiasa dengan perubahan pada diri masing-masing. Tidak ada pertanyaan maupun jawaban yang terungkapkan di antara keduanya. Mengalir begitu saja.
Namun pada suatu kesempatan. Saat jam ketiga dan keempat (08.20 – 09.40) dimana ketika itu dewan guru sedang rapat mendadak di ruang guru dipimpin langsung oleh kepala sekolah, seperti ada hal yang krusial yang butuh penyelesaian dan solusi secepatnya. Siswa-siswi diberikan tugas belajar diluar kelas, membersihkan taman, piket menyapu, menyiangi rumput, membersikan selokan, dan lain sebagainya.
Setelah proses pembelajaran di luar kelas tersebut usai, dan rapat dewan guru belum kelar, anak-anak dikasih waktu istirahat panjang sebelum masuk kelas lagi melanjutkan pembelajaran. Saat itulah Vivi melihat Jaka sedang sendirian di tempat biasa, main gitar di bawah pohon keres depan multimedia. Tiba-tiba Vivi berinisiatif kesana menghampiri Jaka.
“Jaka..! bolehkan aku duduk disini?” tanya Vivi pada Jaka yang tetap asyik dengan gitarnya.
“He’em..!” Jawab Jaka singkat tetap asyik dengan gitarnya.
Vivi duduk di samping kanan Jaka agak menjauh sekira dua hastah. Tak ada suara tak ada kata tak ada bahasa dari lisan mereka berdua. Larut menenggelamkan diri dalam gejolak jiwa masing-masing. Hanya terdengar dentingan dawai gitar dan suara rendah Jaka yg sedang menyanyikan sebuah lagu.
“Jaka..!” sahut Vivi memecah kesunyian jiwa, namun tak ada respon dari Jaka yang tetap asyik memetik gitar.
“Jaka..!? bolehkah aku berbicara denganmu” sekali lagi Vivi mencoba memulai perbincangan, namun tetap direspon dengan sikap yang sama seperti sebelumnya.
Beberapa lama Vivi memilih diam tak bertanya lagi karena respon Jaka masih tetap dingin dan hambar.
Sambil beranjak dari tempat duduknya, akhirnya Vivi mendekat dan berdiri di hadapan Jaka, menatap wajahnya yang menunduk dan fokus pada gitar yang ia mainkan. Dengan cekatan Vivi memegang fred gitar yang sedang Jaka mainkan, sehingga suara senarnya pun terhenti. Jreng..!
“Jaka..!? bisakah kau mendengarkanku? Sebentar aja!” Suara Vivi rendah melemah berharap agar Jaka berhenti memainkan gitarnya dan beralih mendengarkan ucapannya.
Akhirnya Jaka memilih berhenti memainkan petikan gitarnya, dengan pandangan tetap kosong ke bawah, tak berselang lama kemudian pandangannya ia naikkan ke atas memandang dingin wajah yang sejak tadi berada dihadapannya.
Gitar tetap berada dalam dekapannya dan beberapa lama tanpa merespon Vivi, akhirnya Jaka baru bisa menimpali dan merespon suara Vivi setelah fred gitar sedikit demi sedikit terlepas dari genggaman Vivi.
“Silahkan duduk, ada apa..?! Jawab Jaka mempersilahkan Vivi duduk kembali.
Tanpa menjawab sepatah katapun, akhirnya Vivi duduk ke tempat semula, di emperan teras multimedia. Suasana hening, sehening jiwa dua manusia ini. Kini mereka berdua seperti dua orang yang sedang tak akur dengan tatapan kosong ke depan.
Di hadapan mereka, tumbuh dua pohon keres yang sudah tua, buahnya yang ranum-ranum berguguran berceceran di tanah terkena injak kaki anak-anak yang mengambil buah yang masih di atas pohon. Mengorbankan yang sudah masak yang berada di tanah demi mendapatkan buah yang masak yang masih di pohon. Sekilas terlintas di antara kebisuan pikiran mereka berdua, ternyata masih sempat memikirkan hal yang sama; tentang buah keres yang masak yang terjatuh sia-sia di tanah.
“Jaka..! aku tak ingin seperti buah keres itu, sudah ranum masak ternyata hancur terkena injak anak-anak di tanah. Aku ingin seperti buah keres yang masak tapi tetap menyatu dengan pohonnya di atas, aku tak mau terjatuh dan tak termanfaatkan... Ngertikan kau maksudku..!!??” Ulas Vivi dengan mengiaskan harapan hatinya melalui nasib buah keres yang berjatuhan ke tanah.
“Entahlah Vi.. Kalimatmu terlalu tinggi dan tak dapat ku pahami.. aku tak paham apa maksudmu..!” jawab Jaka menimpali.
“Aku perhatikan, aku rasakan, aku jalani, dan aku alami, kau sudah mulai berubah. Dan perubahanmu sangat tiba-tiba dan drastis. Aku sempat bertanya-tanya; Kemanakah sikap lebaymu yang dulu?, kemana pendapat-pendapatmu saat kita diskusi?. Hal demikian sudah tidak kurasakan lagi sekarang. Sikapmu sudah dingin dan hambar padaku. Jaka..! Apa yang telah membuatmu bersikap demikian? Apa diriku telah melakukan sesuatu yang menyinggung perasaan dan melukai hatimu..??!” ujar Vivi setengah mencurahkan unek-unek hatinya, terbawa perasaan (baper).
“Vivi,, tak ada masalah diantara kita, tidak ada yang perlu diselesaikan. Kalaupun kau mengatakan aku telah berubah, itu bukan karena dirimu, kau tidak bermasalah denganku. Jujur.. sebenarnya hubungan persahabatan kita tetap, tapi dengan cara yang berbeda!” jawab Jaka sudah mulai membuka diri.
”Nah, itu maksudku..!, berarti kau mulai benar-benar berubah. Sikap dan perilakumu tidak seperti biasanya lho...!!” sanggah Vivi dengan wajah yang sedikit berbinar tapi tetap penasaran.
“Aku seperti ini, bukan maksud merubah diri. Aku hanya ingin belajar menata jiwa agar belajar lebih dewasa. Bagaimana sikap dan perilaku dewasa, ya begitulah aku belajar..!” ucap Jaka sambil meletakkan gitar di pampang yang sejak tadi dia dekap di pangkuannya, sambil mengingsutkan duduknya sedikit miring menghadap Vivi.
“Okelah..! dulu aku dikenal lebay padamu, egois, dan tak mau mengalah. Sekarang aku belajar untuk merubah itu semua. Khususnya kepadamu..!” jawab Jaka dengan tegas.
“Lho..!? kok bisa khusus kepadaku, Jaka..!” jawab Vivi langsung memotong penjelasan Jaka.
“Iya Vi, khusus kepadamu. Aku tidak hanya ingin menganggapmu sebagai sahabat biasa, tapi lebih dari itu semua.. aku.. aku..” Suara Jaka seperti terhenti-henti tidak mampu mengeluarkan kata-kata lagi. Semacam ada hal aneh yang ada di tenggorokannya sehingga sulit untuk bersuara.
Suasana hening sejenak, Vivi membuang pandangan ke depan, sesekali melihat keatas pohon keres, menatap beberapa buah keres yang ranum, kemudian menunduk, menghela napas panjang, dan kembali menatap wajah Jaka yang tetap masih menunduk dengan mulut yang seperti terkunci. Vivi rupanya sudah mulai bisa menerka-nerka apa kalimat yang akan terlontar dari lisan Jaka untuk dan tentang dirinya.
“Maksud kalimatmu -khusus kepadaku-, memangnya tentang apa Jaka..!?” jawab Vivi memecah kesunyian.
“Vivi.. kau tau kan?!, pemberian terakhirku padamu di depan kelas dulu sebelum kita masuk ruangan?!” tanya Jaka mengalihkan sedikit permasalahan ke masa lalu.
“Iya, aku masih ingat. Kau memberiku sebungkus Bongkou dan aku lupa sampai sekarang belum berterima kasih padamu. Oia.. terima kasih Ya Jaka Bongkounya..!! enak banget, manis dan aromanya itu bikin aku ketagihan..! hehe.. apalagi kudapatkan dengan gratis dan cuma-cuma dari seorang sahabat terbaikku.. heheh..” jawab Vivi dengan sidikit riang dengan maksud guyon agar suasana tidak tegang.
“Ya itulah perasaanku padamu Vi..! Sejak saat itu aku sebenarnya ingin mengatakan tentang rasaku ini. Aku ingin seperti Boungkou yang telah kau cicipi, rasanya manis bukan..!?, aromanya bikin kamu ketagihan, kan..!? Dan aku memberikannya tanpa mengharap imbalan apapun darimu, bahkan meskipun kau belum sempat berterima kasih padaku, bagiku tidak masalah. Karena kata guru kita, pemberian yang ikhlas itu tidak terbahasakan.. makanya sejak saat itu aku tak pernah mengungkit-ungkitnya lagi...!” Jaka mulai menjelaskan dan sedikit mengarahkan pada maksud yang sebenarnya. Vivi hanya diam membisu, mencoba menafsirkan kembali makna dari kalimat-kalimat yang digunakan Jaka tentang Boungkou.
“Vivi.. Perasaanku padamu sejak saat itu hingga sekarang, kini menjelma seperti manisnya Bongkou Vi..! aku mencintaimu Vi..! cinta yang manis semanis Boungkou...! bahkan melebihi dari itu semua.. Aku tidak akan menjadikanmu pacar.. aku hanya ingin mempersiapkan dirimu sebagai calon istriku.. Sekali lagi, aku tak ingin mempacari kamu Vi..!” Suara serak Jaka akhirnya mampu juga mengeluarkan kata-kata terberat yang sejak dulu tersimpan dalam hati dan pikirannya selama ini. Kini agak lega karena telah berhasil ia utarakan, mengutarakannya pun dengan kondisi serius dan tidak main-main, berbeda saat dulu yang masih mengedepankan lebayisme pada perempuan. Kini ia bahasakan dengan sebenarnya, jiwa dan hati benar-benar jujur sejujur-jujurnya mengungkapkannya.
“Benarkah dengan perasaanmu, Jaka..!?, Benarkah apa yang kau katakan..?? Telisik Vivi dengan rasa tak percaya.
“Apa yang harus aku lakukan lagi Vi..! agar kamu percaya apa yang telah aku ungkapkan?!, Apakah aku harus bilang Jangankan bulan yang aku persembahkan, aku pun rela terbakar hangus karena merengkuh matahari demi mempersembahkannya padamu. Tapi yang demikian itu kan terlalu lebai Vi..!? dan kaupun tentu semakin tidak akan percaya. Atau apakah aku perlu bilang Belahlah dadaku lihatlah jantungku, perhatikan hatiku, disana tertulis namamu.. tentu sekali lagi tidak Vi..!! kau tidak akan percaya kalimat-kalimatku tersebut..!” ujar Jaka bak sastrawan yang sedang berpuisi di atas pentas.
“Bukan begitu Jaka..! ya aku percaya perasaannmu padaku. Kau itu laki-laki, biasanya berpikir dan bertindak atas dasar akal pikiran, logika, masuk akal ataukah tidak, mampu ataukah tidak, dan seterusnya. Jadi, Bisa atau tidak?, masuk akal tidak?, mampu tidak? Kau hendak meminangku, menikahiku, memperistri aku. Apakah kau sudah sanggup?!! Dengan segala kelebihan dan kelemahanku? Pun dengan kondisi kita yang masih bau kencur kayak sekarang ini..!!?” Vivi menjelaskan pada Jaka.
“Sedangkan aku perempuan, biasanya aku berpikir dan bertindak lebih mengedepankan perasaan. Kalau aku sudah terlanjur serius dengan seorang laki-laki, serius pada satu pilihan, dan sudah mengambil keputusan. Maka pantang bagiku untuk pindah kelain hati...!!!, nah saat aku demikian, tiba-tiba misalnya kamu berubah terhadapku dikemudian hari, begitu jahatnya dirimu sebagai laki-laki, menggantung perasaanku oleh cinta monyetmu..! Dan biasanya laki-laki seumuran kita, lebih-lebih kamu, biasanya masih cinta monyet kan...!!, karena bagiku, untuk seumuran kita saat ini, cinta sejati itu belum ada. Ia hanya ilusi keindahan semata.. ilusi..!” Lanjut Vivi seperti menceramahi. Maklum tak dimana-mana, biasanya perempuan lebih cepat dewasa dibanding laki-laki.
“Ia Vi.. aku hargai pendapatmu.. dan apa yang kau katakan itu benar adanya.. Aku laki-laki, lebih berat tanggungjawabku sebagai laki-laki dari pada perempuan. Terus... apa yang harus kau dan aku lakukan!? “ jelas Jaka mulai sangsi dan was-was setelah diceramahi Vivi.
“Gini aja..!, mohon maaf sebelumnya, aku minta maaf dengan sangat ya Jaka!” ujar Vivi mengawali pembicaraan kearah keputusan final tentang tanggapan dirinya trerhadap ungkapan perasaan cinta dari Jaka tadi.
“Iya Vi.. silahkan kalau kau ingin mengutarakan sesuatu. Tidak masalah dan apa pun jawabanmu tidak akan aku permasalahkan kok..!? kata Jaka menenangkan dan meyakinkan Vivi.
“Maafkan aku Jaka..! bukan aku tak ingin menghargai perasaanmu, bahkan aku berterima kasih padamu telah memilih aku sebagai salah satu perempuan yang spesial di hatimu, sehingga kau memutuskan untuk menaruh cintamu padaku, dan itu adalah suatu kehormatan bagiku sebagai perempuan. Tapi aku hanya ingin bilang padamu, untuk saat ini aku belum memikirkan sesuatu yang berkenaan dengan cinta, tunangan, apalagi sampai menikah dan berkeluarga. Sungguh pikiran dan hasratku tidak ke arah tersebut sama sekali. Apalagi kita ini kan masih SMP, cita-cita kita masih jauh kan!? Masa depan kita masih panjang kan!? Aku tak ingin cita-cita dan pengembaraan mencari ilmu ini rusak dan terputus hanya gara-gara mencintai sebelum waktunya. Alangkah baiknya kita tetap bersahabat seperti biasa, tidak ada ikatan percintaan laki-perempuan. Cukuplah hubungan persahabatan yang kita jalin, dan itu lebih indah..! masalah Jodoh.. itu urusan Tuhan, maka kita pasrahkan pada-Nya saja. Kalau misalnya kita berjodoh maka tidak akan kemana kok..! heheh.. maaf Jaka..! akuy bukan memberikan harapan palsu lho ya..!?” Jelas Vivi panjang lebar sambil menorehkan senyum.
“Iya Vi.. benar juga kamu, kalau kamu berpendapat seperti itu sepertinya aku semakin jatuh cinta padamu..!, hehe.. maksudku jatuh cinta pada sifat bijakmu...!! kedewasaanmu menyadarkanku, hidup kita, masa depan kita memang masih panjang. Aku pun berpikir demikian. Cita-citaku masih jauh, masih lama, masih panjang, dan masih ingin melanglang buana menyusuri alam ilmu. Bahkan aku bercita-cita akan menuntaskan pencarian ilmu hingga S3, kayak kepala sekolah kita itu, beliau sudah lulus S3, masak kita anak didiknya tidak...!!??” Jelas Jaka balik pada Vivi. Baik Jaka maupun Vivi sebenarnya sama-sama memiliki pemahaman yang sama tentang makna cita-cita dan masa depan. Mereka berdua sama-sama memiliki pola pikir yang mendekati kedewasaan meskipun umur mereka masih setingkat SMP.
“Baiklah..!, aku hargai pendapatmu, dan aku hormati keinginanmu. Biarlah cintaku padamu hanya sekedar kisah indah yang berlalu di semanis Bongkou. Dan kisah pilu karena cinta bertepuk sebelah tangan di pelataran multimedia ini, biarlah hanya disaksikan oleh pohon keres. Bahwa kita tetap menjalin persahabatan seperti biasanya, tidak lebih. Aku setuju dengan pendapatmu, biarlah Tuhan yang menentukan siapakah jodoh kita masing-masing nantinya, alangkah baiknya kita fokus pada masa belajar kita sekarang. Dan masalah Cinta; ya... Rab Ne Bana De Jodi, kita berjalan di atas jalan cinta yang berbeda, dan bertemu di ujung jalan cinta yang sama. Siapa tahu, setelah kita selesai dengan cita-cita masing, kita dipertemukan dengan cinta yang sama nantinya.. hehe..” tutup Jaka sambil tersenyum belibis.
“Ah kamu Jaka... ada-ada aja, berarti kamu masih berharap ya padaku...??!!” Sergah Vivi dengan dibalas senyum pada Jaka.
“Iya sekarang Vi..!, aku masih berharap. Tapi, entah nanti, mungkin aku sudah pindah ke lain hati.. hehehe...!!!” respon Jaka setengah guyon.
“Ah.. ngomong ongguh kakeh, Jaka..!” ujar Vivi seraya beranjak bangkit dari tempat duduknya.
Bel masuk telah berbunyi, menandakan kelas akan dimulai. Di hati mereka masing-masing telah menemukan titik akhir keputusan yang akan dijadikan dasar sebagai pijakan melangkah ke masa depan. Meskipun sebenarnya, diakui atau tidak, keputusan yang mereka ambil adalah keputusan di atas keputus-asaan.

***

Kamis, 08 Juni 2017

GRAVEECA PILOW; MENANGIS ITU BUKAN BERARTI CENGENG

Repotase

Bangsereh - Tidak terencana sebelumnya, mengalir begitu saja saat menjalani pergaulan sehari-hari hingga menemukan sesuatu yang menarik dan perlu dimunculkan ke permukaan, serta dipublish ke dunia maya. Mungkin inilah kalimat awal untuk mendeskripsikan Group Graveeca Pilow.
“Pertamanya sih kami iseng saja, kami lakukan sekedar menyamakan nama di FB, tidak ada maksud lain” kata Sumiyati. Kemudian dipelopori oleh Irma Ikrimah ketika itu, teman-teman yang lain yang berpikiran sama dengan serentak memakai prediket Graveeca Pilow pada akun FB masing-masing.
Kenapa harus Graveecca Pilow?. “Ya, karena kata-katanya enak di dengar, bersifat feminin” kata Mia –panggilan akrab Sumiati” yang mendapat gelar konyol oleh teman-teman yang lain ini menambahkan.
Mengenai sejarah, anak-anak Pilow ini tidak tahu pasti waktu kapan Pilow itu muncul. “Seingat saya, awal masuk kelas IX semester pertama, sekitar tahun 2016” ujar Khotijah menjelaskan dan di-iyakan oleh Wasilah.
Perihal tujuan kelompok ini terbentuk, Wasilah berpendapat bahwa ada keinginan diantara mereka untuk tetap menjaga hubungan persahabatan sampai kapanpun, apalagi saat mereka lulus nanti. “Bahkan saat kami sama-sama sudah berkeluarga, bisa reonian dengan membawa keluarga masing-masing” kelakar Rohimah.
Apakah sudah terbentuk pengurus?. “Kelompok kami ini memang sengaja tidak kami bentuk pengurus agar tidak terjadi kecemburuan sosial. Posisi kami adalah sama, sama-sama diikat oleh istilah Gravecca Pilow” papar Sumiati.
Ketika ada permasalahan atau sesuatu hal yang perlu dipecahkan, kelompok ini menjunjung tinggi asas musyawarah mufakat sebelum mengambil keputusan. “Jika kami menemukan permasalahan, baik antar pribadi di kelompok ini, atau pribadi di kelompok ini dengan orang luar, kami selalu bermusyawarah” kata Khotijah.
Disinggung bagaimana pandangan tentang karakter antar teman yang satu dengan yang lain, ternyata mereka sudah mempunyai penilaian tersendiri, dan menerima dengan lapang dada apapun cap yg diberikan oleh temannya. Misalnya saat ditanya bagaimana sosok Siti Nuraida di mata Marlina. “Ida itu tipe sahabat yang tidak pilah-pilih teman, siapapun dapat bergaul dengannya” kata Marlina. Sebaliknya, ketika Siti Nuraida diminta menilai tentang Marlina, dia menjawab bahwa Marlina itu Lugu tapi tegas, dan multiplus. Dari sifatnya inilah kadang dirinya tak terkendalikan alias ceplas-ceplos. Dua anak ini senyam-senyum ketika diminta untuk saling mendeskripsikan karakter masing-masing.
Sekarang giliran teman terkonyol, Sumiati. “Mia itu egois dan banyak ulah, karena ke-egois-an inilah banyak muncul ke-kenyol-an darinya yang sering membuat suasana cair” kata Rohimah diikuti oleh gemuruh halilintar yang tiba-tiba, karena memang saat wawancara berlangsung wajah langit sedang mendung. Sontak semuanya terkejut, jangan-jangan itu tanda dari Tuhan bahwa Mia tidak demikian. Tuhan Yang Maha Tahu. “Ah.. kebetulan saja!, jangan mengaitkan sesuatu dengan mistis, tidak baik” kata reporter menengahi.
Ketika ditanya tentang isu bahwa anak-anak Pilow ini dikenal sebagai kelompok cengeng, Wasilah berusaha menjelaskan. “Benar, kami memang cengeng, itulah perempuan. Tapi ke-cengeng-an kami bukan berarti kami lemah, selalu berair mata tanpa makna. Justru pada air mata kami itulah, ada obat untuk kami sendiri. Terkait dengan isu, biarlah isu itu muncul, terserah orang lain menilai kami, yang penting kami banyak belajar dengan teman-teman di Pilow bagaimana memaknai air mata” imbuh Wasilah panjang lebar.
Sekarang Siti Nuraida dan Irma Ikrimah. Mereka berdua dikenal sebagai perempuan cerdas. “Bedanya, kalau Ida cerdas terbuka, kalau Irma itu cerdas tertutup, diam tanpa banyak bicara maksudnya” jelas Khotijah. Nah, Situ Nuraida langsung berkomentar balik tentang Khotijah, “Khotijah itu tegas dan berani, apalagi terhadap para cowok yang mau menganggunya” imbuhnya dengan senyum.
Giliran deskripsi tentang Indriani, semua anak-anak Pilow sepakat bahwa dirinya dikenal cerewet, tapi cerewetnya terbatas di lingkungan Pilow, mungkin ketika dengan yang lain tidak demikian alias lebih banyak diam. Sedangkan Rohimah, ia dikenal pemarah yang cepat sembuh. Karakter ini pun berlaku di lingkungan Pilow, entah ketika bersama dengan anak-anak yang lain, apakah kemarahannya awet atau juga cepat sembuh.
Nah hal ini berbeda dengan Luluk Komariyah, ia dikenal dari tawanya yang khas cekikikan bak tawa si kunti. Sedangkan Yuli Yesika, merupakan tipe pendiam dan seolah-olah tidak energik, namun ada titik semangat “bersosialisasi’ dengan teman-teman yang lain di Pilow.
Kelompok ini menjadikan kebersamaan asas dalam pergaulan mereka sehari-hari. “Kami pernah jalan, rekreasi bareng ke bukit Geger” komentar Wewe –panggilan akrab Wasilah- saat ditanya usaha apa yang bisa dilakukan untuk menjalin kebersamaan tersebut.
Rohimah menambahkan bahwa mereka pernah takziyah saat ada salah satu anggota keluarga sedang di timpa musibah, pernah juga ikut serta nimbrung memeriahkan prosesi pertunangan salah satu anggota Pilow yang lain yaitu Yuliana Wulandari. “Bahkan kami pernah mengerjakan tugas PR bersama-sama di rumah Khotijah kemudian berlanjut ke rumah Ida. Mengerjakan PR berikut silaturrahim” kata Rohimah.
Saat dikonfirmasi tentang hubungan kelompok ini dengan organisasi sekolah, serentak anak-anak Pilow kompak menjawab bahwa bentukan kelompok mereka tidak ada kaitannya dengan organisasi sekolah yang sudah ada, bahkan hal demikian mereka lakukan untuk melanjutkan tradisi solidaritas kebersamaan yang pernah mereka aktif sebelumnya yaitu OSIS, karena mayoritas mereka adalah eks pengurus OSIS.
Uniknya, mayoritas anak-anak Pilow adalah semua anak-anak perempuan kelas IX B, kecuali Hamimah. Pernah awalnya ikut serta dalam kelompok ini tapi kemudian karena beberapa hal, salah satunya karena tidak aktif di FB, si Hamimah ini “menghilang” dari kelompok mereka.
Saat berita ini di tulis, mereka berencana akan hacking merenungi keindaha alam ciptaan Tuhan tepatnya di daerah Bukit Kasmaran. Entah dilaksanakan atau tidak, mereka yang lebih tahu. (Awr).

Jumat, 05 Mei 2017

Enam Hal Yang Harus Dimiliki Oleh Murid

Reportase

Bangsereh - Mas Ridho namanya, anak laki-laki keempat dari lima bersaudara. Ini adalah sepenggal peristiwa dirinya yang terjadi pada hari Sabtu, tanggal 18 Maret 2017 tempo hari. Kebetulan saat itu ia bangun tidur sekitar jam empat lebih untuk shalat shubuh. Setelah berwuduk ia bergegas shalat.
Usai shalat, Mas Ridho ditemani adiknya menuju sumur untuk mencuci pakaian. Dia terbiasa mencuci sendiri pakainnya dibantu adiknya, dan kadang membantu mencucikan beberapa pakaian milik anggota keluarganya diantaranya beberapa pakaian milik ayahnya, ibunya, dan adiknya.
Setelah pekerjaan ini selesai, Mas Ridho sarapan pagi. Istirahat sejenak dan  dilanjutkan aktifitas lain yaitu membantu menjemur gabah.

Sekitar 3 jam kemudian, cuaca tidak mendukung dan sepertinya hari akan turun hujan. Buru-buru Mas Ridho menyelamatkan “jemuran  padinya” dari serangan air hujan. Setelah selesai lalu dia mandi dan berwuduk untuk shalat Dzuhur dan makan siang. Hari sudah mulai terang dan hujan sudah reda, Mas Ridho dan adiknya bergegas kerutinitas selanjutnya yaitu sekolah madrasah di Gunelap.
Disana ia mengikuti pelajaran menerjemahkan kitab dan di jelaskan oleh sang Ustadz.
Ada hal penting yang dia dapatkan dari penjelasan sang ustadz, diantaranya tentang cara memilih sekolah atau pondok. Seseorang yang mau melanjutkan pendidikannya, entah sekolah maupun pondok, hendaknya melalui proses pertimbangan dan memikirkan terlebih dahulu minimal dua bulan sebelum memutuskan untuk masuk sekolah atau pondok.
“Orang yang mondok paling sedikit 3 tahun harus menetap di pondok” jelas sang ustadz sekilas menceritakan sebagian kisahnya saat dirinya mondok di Sidogiri.
“Pada saat itu, ada putra kiai saya yang mondok di Jawa Tengah. Selang satu minggu, si putra kiai tersebut di suruh pulang oleh pengasuh, dan dianggap ilmunya sudah mumpuni untuk mengembangkan pondoknya sendiri, yaitu di Sidogiri” kisah sang ustadz menambahkan.
Selain mendapat kisah hikmah dari Sang Ustadz, Mas Ridho juga mendapatkan petuah tentang “ilmu”, mencari ilmu dipastikan dilalui dengan berbagai macam cobaan hidup yang tidak ringan. Dan sesorang tidak akan mendapatkan ilmu kecuali ia memiliki 6 perkara; cerdas, berkemauan, sabar, bekal, dibimbing guru, dan jangka waktu yang lama.
Pembelajaran selesai, berdoa bersama dipimpin sang Ustadz, salam, lalu Mas Ridho, adiknya, dan teman-temannya yang lain pulang ke rumah masing-masing.
Sesampainya di Rumah, Mas Ridho istirahat sejenak kemudian pergi ke rumah kekeknya karena ada beberapa keperluan. Urusan dengan kakeknya selesai, Mas Ridho pulang karena hari sudah sore, ia bergegas mandi sambil menunggu adzan maghrib untuk kemudian shalat Maghrib. (Rdi).

Sabtu, 01 April 2017

BELAJAR DEWASA ALA ADOLESCENT LABIEL


Reportase

Bangsereh - Sudah menjadi mafhum, manusia tercipta sebagai makhluk sosial, yaitu antara manusia yang satu dengan manusia yang lain saling membutuhkan, baik kapasitasnya sebagai pribadi personal maupun individu sebagai bagian dari anggota masyarakat secara umum. Sifat saling membutuhkan kepada orang lain inilah yang memunculkan keinginan beberapa peserta didik SMP Negeri 2 Sepulu untuk membentuk sebuah kelompok khusus yang mewadahi mereka atas dasar kesamaan visi dan misi, perasaan, hingga kesamaan kebiasaan.
SMP Negeri 2 Sepulu yang berlokasi di daerah lembah pedesaan, tepatrnya di Desa Bangsereh Kec. Sepulu ini memiliki peserta didik yang cenderung heterogen (bermacam-macam, campuran) dari aspek karakter sosialnya. Di sekolah ini ada beberapa peserta didik yang membentuk kelompok belajar atas dasar inisiatif mereka sendiri. Ada Labiel, Pilow, Analur, Glient, Marvell, dan lain-lain.
Kelompok Labiel misalnya -yang anggotanya adalah kaum hawa semua- terbentuk sekitar akhir tahun pelajaran 2015 semester dua  ini awalnya terinspirasi dan termotivasi oleh kakak kelas mereka yang yang lebih dulu membentuk kelompok Olivia Pilon. “Tanpa pengurus, tanpa ketua, anak-anak labiel posisi statusnya sama, yaitu sama-sama anggota” ujar Komariyah, salah satu penggagas Labiel.
Disinggung visi dan misi, Kata Kokom, -panggilan akrab Komariyah-, Labiel lebih menekankan pada solidaritas persahabatan hingga tua tetap terjalin kuat. Sedangkan misinya, agar jalinan solidaritas tersebut terjaga antar individu dengan beberapa cara, misalnya saling terbuka dan bersedia saat dibutuhkan sebagai teman curhat oleh anggota yang lain. “Labiel dari namanya saja dapat diartikan sebagai sifat Lo’ Jhek-Jhek (Madura. -Red.), jadi seumuran kami disini, kelabilan sering kita alami.” kata Qolimatul Sa’diyah. “Oleh karena itu jika menemukan suatu permasalahan hidup, baik pribadi maupun menyangkut orang lain, kami terbiasa sharing bersama untuk menemukan solusi” tambah Eks. Ketua PIK-R ini dengan gamblang.
Dari visi misi yang sederhana ini, cara mereka bersosialisasi dan berinteraksi mengalir dengan sederhana dan begitu saja, tanpa ada dikte dan tekanan dari pihak sekolah atau guru, yang penting tidak mengganggu proses pembelajaran di sekolah.
Kelompok Adolescent Labiel
Perihal keanggotaan, kelompok ini terdiri dari mayoritas kaum perempuan, yang notabene pada diri masing-masing mareka memiliki karakter rasa yang bermacam-macam pula, namun tetap disatukan oleh predikat yang sama dibelakang nama group Facebook mereka; Adolescent Labiel.
Pilihan nomenklatur kelompok jatuh pada pilihan “Adolescent Labiel” menurut Komariyah bukanlah tanpa alasan. Definisi adolescent sendiri adalah “remaja yang ramah”, dan prediket ini muncul belakangan yang sebelumnya mereka hanya menggunakan kata Labiel saja. “Di kelompok kami kreatifitas adalah hal yang selalu kami tunjukkan, ketika kami melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh orang lain, dan kemudian jika orang lain mengikutinya itu menjadi kebanggan tersendiri bagi kelompok kami, dan kami tidak marah terhadap mereka yang menjiplaknya” imbuh perempuan yang berprinsip “pantang berpacaran” ini dengan lugas.
Namun perempuan -yang katanya- masih bersikukuh dengan kesendiriannya ini kelihatan bingung juga ketika disinggung tentang usaha apa saja yang telah dilakukan dalam rangka pengembangan diri yang sekiranya bermanfaat bagi pribadi lebih-lebih bagi diluar diri mereka, misalnya di masyarakat secara umum. Karena semisal kelompok Analur, pernah kerja bakti bersih-bersih di lingkungan sekolah atas dasar inisiatif mereka sendiri.
Dari sisi karakter individu, kelompok Adolescent Labiel ini bermacam-macam. Meskipun subjektif atas dasar penilaian teman-temannya yang lain, namun cukup menggambarkan bahwa kelompok ini bak warna pelangi, disana sini banyak kekurangan, di sana sini pula saling melengkapi antar teman. Misalnya ketika di tanya tentang sosok seorang Nor Komariyah, teman-teman yang lain kompak menjawab “Dia itu tipe orang santai tanpa masalah, pendiam di kelas” serentak mereka menjawab.
Lha bagaimana dengan si Qorrotul Uyun?, kata beberapa temannya, perempuan yang satu ini berbanding terbalik dengan Nor Qomariyah, si Uyun –panggilab akrab Qorrotul Uyun- ini adalah tipe investigator, penyidik, dan “pengorek” permasalahan dan kegalauan teman-teman yang lain untuk dicarikan solusinya bersama-sama, atau bahkan sebaliknya, semakin memperunyam keadaan.
Beralih ke anggota yang lain, ketika ditanya tentang karakter Siti Jamilah, Rita menjawab dengan malu-malu berkomentar tentang Siti Jamilah yang lucu yang sesekali mampu mencairkan suasana. Namun sebaliknya ketika di tanya tentang Siapa Rita, Siti Jamilah menjawab sambil melirik dia dengan mengatakan “tidak tahu”, tapi dari lirikannya sepertinya ada kata-kata yang tak terbahasakan dan tak mampu diungkapkan oleh Siti Jamilah dalam mendeskripsikan sosok Rita.
Kelompok Adolescent Labiel
Selain Rita dan Jamilah, juga ada Hikmatul Jannah, Komariyah, dan Qolimah yang dikenal oleh teman-temannya yang lain sebagai orang yang “dituakan”. Ada juga pribadi yang penuh rahasia semisal Uswatun Hasanah yang tipe anaknya tertutup, dan itu lumrah karena memang haknya, curhat kepada orang lain atau lebih memilih diam dan menyimpannya sendiri jika diterpa masalah. Sedangkan untuk Rohmatul M, dengan tipe dan gaya “banyak bicara”-nya, suasana hening kadang berubah menjadi kepala temannya yang lain pening, karakternya berbanding terbalik dengan Sri Agustini yang full silent tapi murah senyum. Ketika ditanya tentang manfaat yang didapat setelah bergabung dengan kelompok ini, Tinin –panggilan akrabnya- bilang merasa senang dan bahagia.
Ketika ditanya tentang eksistensi Labiel kaitannya dengan organisasi yang berada di bawah naungan sekolah (Pramuka, OSIS, dan PIK-R), apakah kelompok Labiel lahir karena “kekecewaan dan ketidakpuasan” mereka terhadap organisasi di sekolah?. Mantan ketua PIK-R, Qolimatul Sa’diyah dengan tegas menjawab bahwa Labiel lahir bukan karena suatu ketidakpuasan apalagi kekecewaan. “Labiel murni lahir atas inisiatif kami sendiri, atas dasar kesamaan visi misi, bahkan Labiel bisa dikatakan merupakan wadah untuk melanjutkan tradisi kami yang pernah dilakukan di Organisasi sekolah, yaitu tradisi kekompakan, gotong royong, dan kebersamaan saat masih di OSIS maupun PIK-R”. Imbuh Aisyah yang notabene juga Eks. Pengurus PIK-R.
Sebagai penutup, ketika diajukan pertanyaan tentang perayaan ulang tahun (Ultah) salah satu temannya (Husnul Khotimah) tempo hari yang tidak dirayakan ala anak-anak muda pada umumnya, kelompok ini sepertinya tidak begitu mengkultuskan yang namanya tradisi perayaan ultah, apalagi dengan ritual menyiramkan air, telur, tepung, dan lain sebagainya, karena menurut Aisyah, perayaan ulang tahun menunjukkan semakin berkurangnya umur sesorang. “Berarti semakin tualah kita dan semakin dekatlah kita dengan yang namanya kematian” imbuhnya. (awr).

Kamis, 02 Maret 2017

Tak Melulu Tentang Asmara


TAWAKKAL BERBUAH BERKAH

Oleh:
Nur Aida *

“Ayah.. Ke pasar Yuk..! nemanin Uzi Belanja Ikan untuk lauk kita pada makan malam nanti..??! Uzi pengen lauk ikan dengan menu lezat khas masakan Ibu..??!!” Dengan tergopoh-gopoh Uzi menarik tangan kanan Ayahnya mengajaknya belanja ke Pasar yang kebetulan ketika itu Ayahnya sedang libur kerja.
Dengan sekali anggukan kepala yang berarti setuju ayahnya langsung berdiri tanda mengiyakan ajakan tersebut. “Tapi kamu ganti pakaian dulu. Masak belanja ke pasar dengan seragam sekolah lengkap kayak gitu, nanti disangka penelitian atau tugas dari sekolah sama para pedagang di Pasar” timpal ayah pada Uzi yang kebetulan ketika itu masih lengkap dengan seragam sekolah, memang Uzi baru pulang sekolah.
“He’em.. Baiklah Ayah” sahut Uzi sambil melepaskan tas ransel yang dia gendong dan langsung menuju kamarnya.
Setelah selesai berkemas dan membawa segala keperluan belanja, berangkatlah ayah beranak ini dengan menggunakan kendaraan sepeda motor. Sesampainya di Pasar, diparkirkanlah kendaraan mereka di tempat biasa, kemudian langsung menuju lapak ikan. Tapi apa daya lapak ikan yang dimaksud ternyata keburu tutup.
“Innaa Lillaah... dah tutup Yah...!!? gimana ini, padahal Uzi pengen banget lauk ikan nanti malam..!” sahut Uzi seperti hilang semangat penuh kecewa.
“Dhina pasabber, kedi’ juko’ tahu padeh..!” jelas si Ayah setengah merayu dan mendinginkan kekecewaan Uzi.
“Besok sepulang sekolah, kita kembali lagi ke sini untuk belanja ikan buat lauk makan malam besoknya” tambahnya meredam suasana hati Uzi.
Dengan tangan hampa, pulanglah keluarga kecil ini dengan hanya membawa sebungkus tahu untuk lauk nanti malam.
***
Begitulah Uzi, kalau sudah memiliki hasrat maka akan selalu terngiang sebelum kesampaian. Singkat kisah, keesokan harinya sehabis sekolah, Uzi dan ayahnya pergi ke pasar untuk kedua kalinya dengan maksud dan tujuan yang sama; belanja ikan untuk lauk makan malam.
Setibanya di pasar, langsung menuju lapak ikan yang kemarin tutup, dan sekarang masih terbuka. “Ikannya ada Bang..!? bungkus sajinah yach ikan tongkol, pilihkan yang segar-segar ya, oia jangan lupa 1 kilo ikan terinya sekalian” pinta Uzi dengan semangat pada si abang penjual ikan tanpa tau apa pesanannya ada atau tidak.
“Neng... Tongkolnya dah habis sejak tadi siang, Terinya hari ini tidak ngulak, maaf ya Neng..!!” sahut si Abang menjelaskan.
“Addah.. palang ongguh..! pah bileh se tekka’ah” suara lemas dan parau tanda kecewa tersirat dari raut wajahnya dan sorot matanya yang kian melemah.
“Udahlah Zi.. mungkin belum rezeki kita hari ini, lain waktu aja. Nanti malam kita ganti lauk dulu sementara. Tellor atau gerreng juga enak kok” Jelas ayah menenangkan Uzi.
“Ayo kita pulang aja dulu, nih hari hampir sore, Asar kita harus ada di rumah Lho..!, kasihan ibumu nanti kepikiran kita disangka nyasar kemana-mana, besok-besok kita belanja lagi tu ikan kalau memang kamu benar-benar pengen..” tambah ayah dengan saran bijaksana.
***
Hari sudah hampir sore, adzan Asar berkumandang, Uzi masih tampak kecewa dilihat dari raut wajah yang kusut tak bersemangat. Maklumlah, dua kali berpanas-panas perjalanan ke pasar, dua kali pula tak mendapatkan apa yang diharapkan; ikan.
Dengan bijak si Ayah menghampiri Uzi yang masih berasyik masuk termenung di teras rumahnya. Galau kelas dewa kata anak zaman sekarang karena ikan harapan tak ada.
“Nak.. Sudah Asar tuh..! shalatlah dulu dikau itu, Ayah mau ke Talon dulu di belakang, kalau ada tamu, bilang ayah Ya..” suara Ayah memecahkan kesunyian hati Uzi.
“Iya Yah..!” jawab Uzi singkat dan tanpa membantah langsung menuju kamar mandi untu berwudlu’ dan bergegas menuju mushalla untuk Shalat Asar.
Seusai shalat, tiba-tiba seperti ada tamu yang mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Ternyata paman Uzi yang datang.
“Assalaamu ‘alaikum...” ucap Paman Uzi.
“Wa ‘alaikumus salaam wa rahmatullaah..!, eh.. sampyan Man..!? alenggi Man... ayah masih di Talon belakang, saya panggilkan dulu..!?” jawab Uzi seraya mempersilahkan pamannya untuk duduk di ruang tamu.
“Wes.. gak usah, terima kasih, ini kasihkan ke ayahmu, bilang dari paman. Sebentar lagi hari akan gelap, paman langsung pulang aja ya..” sahut Paman Uzi seraya menyodorkan bungkusan.
“O gitu, ya gak apa-apa Man kalo gitu, nanti saya sampaikan pada ayah. Terima kasih ya Man” jawab Uzi sambil menerima bungkusan plastik dari pamannya.
Setelah si Paman menghilang di balik pintu gerbang pagar, dengan penasaran Uzi sedikit membuka bungkusan plastik dari pamannya tadi. Menyemburatlah aroma yang tidak asing lagi baginya; amis, dan.....
“Alhamdulillaahi Robbil ‘Alamiin... Ayah... Yak juko’ deri Paman..??!!! “ sontak Uzi berteriak kegirangan bersyukur sambil memanggil Ayahnya yang tentu tidak akan mendengar teriakan tersebut karena ayah sedang berada di Talon belakang.
Wajah sendu berubah cerah, ikan yang di damba ternyata sudah di tangan tanpa besrsusah payah. Gratis..tis..tis lagi... Itulah nikmat Tuhan, tawakkal pasrah setelah usaha, sabar menjalani takdir, akhirnya tibalah rizki yang tak disangka-sangka.

* Peserta Didik kelas Akhir SMP Negeri 2 Sepulu (2016-2017)

Jumat, 21 Februari 2014

JURNALIS SEHARI; Rihlah Bersama JPRM Korannya Orang Madura



Hamparan bumi Bangsereh menyambut dengan kesejukan alamiahnya, sebaris kabut terlentang memanjang menyelimuti bukit utara SMP Negeri 2 Sepulu. Helaian daun pohon Mahoni melambai tersisir angin sebelah timur gedung sekolah. Mentari sepertinya masih enggan beranjak dari peraduannya, atau mungkin masih malu menatap satu dua tiga bidadara-bidadari yang mulai berdatangan dan masih segar-segarnya di pagi hari, sehingga ia masih betah mengintip seraya bersembunyi di balik deretan pepehonan.
Kalender Masehi menunjukkan tahun 2014, bulan Pebruari tanggal 19. Bertepatan dengan hari Rabu Wage. Hari dihelatnya kegiatan Pelatihan Dasar Jurnalistik, Bengkel Jurnalis Muda (BEDA) Pelajar 2014 yang diselenggarakan oleh JPRM (Jawa Pos Radar Madura) bekerja sama dengan MKKS SMP Negeri se-Kabupaten Bangkalan.
Sebelum berangkat menuju lokasi, terlebih dahulu rombongan peserta delegasi SMP Negeri 2 Sepulu sowan kepada Bapak Syamsul Arifin, S.Pd.I (yang akrab disapa Pak Ripen) selaku orang yang pernah menggeluti profesi kewartawanan. Mengingat petuahnya dalam hal pewartaan juga kami butuhkan sebagai prolog untuk acara yang akan digelar disana nantinya.
Delegasi yang beranggotakan lima orang tersebut; Anisatul Khoiriyah, Abdus Salam, Nur Islamiyati, Mu’ammar, dan Putri Rohmah; penuh khidmat mendengarkan Taushiyah dari guru yang pernah menyabet guru favorit se-SMP Negeri 2 Sepulu ini. Tentang apa saja yang perlu dilakukan, ditaati, dan dilaksanakan mulai dari pemberangkatan hingga kepulangan, lebih-lebih yang berkenaan dengan isi materi jurnalistik itu sendiri yang nantinya diharapkan para peserta bisa memanifestasikan dan menerapkan ilmu yang sudah diperoleh ketika sudah kembali ke sekolah.
Bapak yang mempunyai nama akun Facebook; Arei Ningrat ini juga mengharapkan kepada para peserta untuk bertanggungjawab kepada diri mereka sendiri, dari rumah pergi ke sekolah hingga ke Bangkalan berangkat dengan “utuh”, maka pulangnya pun harus tetap “utuh”. Artinya mereka tidak boleh kocar-kocar nglencer tanpa izin dan restu dari Bapak Pendamping; Anwar Nuris, S.Pd.I. Taushiyah selesai, tibalah saatnya pemberangkatan. Anggota rombongan diantar honda (Red. Sepeda motor) menuju Pasar Ahatan Sepulu dan selanjutnya akan “ngecer” naik angkot Carry ke Bangkalan.
Rombongan pengantar calon jurnalis muda SMP Negeri 2 Sepulu ini sudah sampai di Pasar Ahatan. Jarum jam masih meniti angka 07.35 WIB. Satu setengah jam lagi mungkin acara dimulai, relatif masih lama. Meskipun demikian, terlihat pada gurat wajah para peserta ini rasa penasaran dan ingin tahu acaranya apa, bentuknya seperti apa, pematerinya siapabahkan mungkin saja sebagian ada yang berpikir; semoga dapat TTM (teman tapi mesra) baru, tanpa harus meninggalkan yang lama. Hehe. Tapi yang jelas alamat lokasi acara tersebut belum tahu secara pasti dimana tempatnya. Duh...!
Terkecuali Mu’ammar, siswa kelas VII A ini terlihat seperti bimbang dan resah. Dibanding dengan teman-teman peserta yang lain, wajahnya agak kusut, matanya nanar, dan yang pasti; Galau. Usut-usut punya usut, bukan karena abis diputusin pacar, ternyata dia phobia dengan yang namanya kendaraan roda empat dan atau lebih (termasuk Odong-Odong kalee..!), tapi untuk roda dua tidak (sepeda motor), lha wong ke sekolah dia pake sepeda motor. Nggak apa-apa, salah satu sifat manusiawi, Bapak Pendamping pun juga begitu, tapi phobia-nya cuma dengan kendaraan tanpa roda alias perahu, Hi..!.
Perjalanan satu jam setengah tidak terasa, mungkin keenakan berdiskusi dengan sopir yang kebetulan tetangga rumah Bapak Pendamping; Kak Latif Marjan. Selama perjalanan Ahatan Sepulu – Kodim Bangkalan menemukan beberapa peristiwa unik. Misalnya; ada salah satu penumpang perempuan tua tidak tahu tujuan, posang kabbhih bede, sopirnya pun juga ikut-ikutan bingung, mau diturunkan dimana tuh penumpang, bahkan sempat gero antara sopir dan penumpang. Dengan kebaikan sopir, akhirnya masalah tersebut bisa terpecahkan dan penumpang tersebut menemukan tempat yang memang dia dituju.
Tidak hanya peristiwa tersebut, Mu’ammar pun akhir KO..!, 1-0, leemmmees bro...!, merem-melek di pundak Abdus Salam. Siswa kelas VII B ini harus “ikhlas” memberikan pundak kirinya pada Mu’ammar sebagai bantal. Mereka berdua berada ditempat duduk deretan bangku ke-dua, dibelakang sopir.
Anggota rombongan yang lain?. Ternyata para srikandi; Hoi, Putri, dan Nur yang ketika itu berada di deretan bangku paling belakang sepertinya sedang berasyik-masyuk dengan kaca. Mbok...!!, dolala...! berdandan ria kado’. Maklum perempuan, memang harus tampil cantik dan perfeksionis. Siapa ada tahu cowok kepincut. Tidak apa-apa.. tidak boleh kemudian minder karena diberitakan seperti itu.. lha wong ini “berita”, dan berita harus berdasar pada fakta (peristiwa yang benar-benar terjadi). Iya khan..?!. Lo’ parcajeh tanya ka Pak Mujek Gionino atau RA. Selvi Andriani.
Menemui beberapa peristiwa unik dalam mobil Carry selama perjalanan menjadikan waktu seperti berjalan lebih cepat. Tidak terasa sudah masuk kota Bangkalan, teringat pada kasus penumpang tadi yang tidak tahu tujuan, kami pun dilanda bingung, juga tidak tahu acara tersebut berlokasi dimana dan alamat lengkapnya dimana. Kepala Sekolah (Bpk. Totok Gunarto, S.Pd., M.Pd) pun hanya memberikan ancer-ancer sederhana.
Kami menemui permasalahan tentang keberadaan tempat, akhirnya Bapak Pendamping berinisiatif menghubungi beliau via telpon, HP sudah ditangan dan siap menelpon, tapi diurungkan seraya berpikir. Masa’ masalah kecil seperti ini harus mengadu pada kepala sekola segala. Tidak kah Kami bisa memecahkannya. Lha wong sudah dikasih ancer-ancer, tinggal mengembangkannya. Manja amat sih..!. Masa’ orang Bangkalan tidak Tahu Aula Kodim. Akhirnya diputuskan untuk tidak menghubungi beliau lagi dan kami bekerja sama dengan sopir mencari lokasinya.

***

Setelah landing di depan Kodim 0829 Bangkalan, tolah-toleh mencari umbul-umbul kegiatan, tidak ketemu. Ternyata baru kelihatan dari jauh umbul-umbul memanjang di atas jalan karena terpasang agak ke dalam. Langsung sopir tancap gas membawa Carry-nya ke depan Aula. Kami turun kayak ayam pindah kandang, tolah-toleh kesana kemari, bukan karena n-katrok atau pun ndeso lho..!, tidak lain karena sejak tadi di dalam angkot terasa pengap dan akhirnya bisa menghirup udara segar, disamping juga liat-liat mungkin ada teman atau orang yang Kami kenal.
Ternyata benar, didalam Aula Kodim yang biasa disebut dengan Gedung Manunggal Jl. Letnan Abdullah ini Bapak Pendamping bertemu dengan orang-orang yang dikenal. Langsung disambut dengan jabatan tangan oleh Bapak H. Edi Hariyadi (disamping menjadi Ketua MKKS SMP Negeri Se-Kabupaten Bangkalan juga Kepala Sekolah SMP Negeri 2 Bangkalan) yang memang sebelumnya sering bertemu di MGMP PAI Mandiri SMP Kabupaten Bangkalan yang biasa dilaksanakan di sekolah beliau bertugas. Setelah itu beliau juga memperkenalkan “ini lho pimpinan umum Radar Madura..” sambil berisyarat pada M. Tojjib yang ketika itu berada disamping beliau.
Setelah Bapak Pendamping melakukan chek in di panitia pelaksana yang menyambut di pintu masuk aula, dan membagi-bagikan konsumsi (kue) pada lima peserta tadi, kami mencari tempat duduk yang pas dan strategis, tidak terlalu jauh dari panggung dan layar slide dan juga tidak terlalu di depan. Sebab kami analisis tata ruang aula, jika terlalu di depan maka kami akan sakit leher karena susah payah mendongak, mengingat panggung yang lebih tinggi. Dan jika terlalu dibelakang maka tidak akan kelihatan dengan jelas siapa saja pematerinya dan apa saja materinya.
Meskipun demikian tata tempat duduk peserta cukup bagus. Di buat berkelompok, setiap kelompok berhadap-hadapan dengan satu meja memanjang di tengah-tengah dengan rata-rata berisi 10-16 kursi yang nantinya di isi oleh peserta berikut guru pendampingnya. Dan Kami kebetulan satu kelompok dengan delegasi dari SMP Negeri 1 Labang. Guru Pendampingnya, yang kebetulan seorang ibu-ibu, sempat bertanya pada kami;
Lho...ini kok 5 peserta Pak? Biasanya kan 4 anak dan 1 pendamping per sekolah Pak? Tuh jadi nggak cukup kursinya jika sama guru pendampingnya”.
Kan benar Bu, tuh pas dengan jumlah kursinya anak-anak, pendamping nanti bisa pakai kursi panitia di belakang. Hehe..!” Jawab kami santai.
Ya memang sejak chek in tadi, Bapak Pendamping memperhatikan delegasi setiap sekolah memang dapat jatah konsumsi lima; 4 peserta didik dan 1 pendamping. Giliran delegasi dari SMP Negeri 2 Sepulu kok membawa 5 prajurit plus satu komandan ya...?!. Jadinya kan enam. Ya dari pada bertanya “konsumsinya kok lima” terus salah satu di antara Kami pah e soro mule bi’ panitia karena telah menyalahi prosedur kepesertaan, mending diam saja, Bapak Pendamping yang la-ngalaen. Diam bukan berarti kalah, diam karena untuk menang. Dan memang benar, setelah sesi materi ke dua Bapak Pendamping berlaga sok kenal cha-mabharanca dengan salah satu marketing Radar Madura Jawa Pos; Mas Syahid, dan akhirnya dapat deh kuenya. Mun lakar rizqih lo’ kera buru man-kamman.
Itulah sekilas catatan berkenaan dengan kebutuhan skunder.

***

Sedangkan hal lain yang lebih penting dari sekedar urusan perut adalah yang berkenaan dengan materi. Angka jarum jam sudah menapaki angka 09.04 WIB. Mas Bagus Tri Handoko selaku pembawa acara memulai tugasnya menata acara demi acara.
Acara pertama yaitu pembukaan dengan mengheningkan cipta mengenang jasa para pahlawan dipimpin langsung oleh penata acara. Dilanjutkan dengan acara yang kedua yaitu sambutan-sambutan yang dimulai dengan sambutan yang pertama yaitu disampaikan oleh Bapak M. Mohni (Kepala Disdik Kabupaten Bangkalan).
Dalam sambutannya beliau menyampaikan beberapa petuah dan harapan agar kegiatan Pelatihan Dasar Jurnalistik tersebut tidak hanya sekedar sampai ketika itu saja, tetap berkelanjutan di masing-masing sekolah dan bisa diterapkan dalam bentuk pembuatan media sekolah.
Beliau juga menyampaikan bahwa media sudah berkembang dengan cepat, khususnya kecepatan dan kemudahan mengkonsumsinya, contohnya saja media online. Oleh karena itu sudah saatnya sekolah mampu melahirkan wartawan-wartawan cilik, mengingat siapapun bisa jadi wartawan. Meskipun menjadi seorang jurnalis tidak cukup karena bakat, tapi juga keinginan belajar jurnalistik.
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Dandim Letkol Infantri Bapak Dwi Kuncoro sebagai penyedia sarana berupa tempat kegiatan yang sedang berlangsung. Dalam sambutannya beliau berharap terhadap peserta agar menjadikan kegiatan tersebut sebagai pengalaman awal dalam menempa diri dalam ilmu jurnalistik dan bisa menindaklanjutinya dalam bentuk pembuatan media sekolah nantinya. Beliau juga atas nama Jajaran Kodim siap menyediakan tempat kembali jika memang diperlukan dikemudian hari.
Dilanjutkan dengan sambutan yang ketiga disampaikan oleh M. Tojjib. Beliau menyampaikan ucapan terima kasih kepada Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Bangkalan, MKKS SMP Negeri se-Kabupaten Bangkalan, Kodim 0829 Bangkalan, Kepala Sekolah-kepala sekolah SMP Negeri se-Kabupaten Bangkalan, Guru Pendamping peserta, dan pihak-pihak terkait lainnya.
General Manager Jawa Pos Radar Madura ini juga menjelaskan salah satu fungsi sosial dan pendidikan media bagi masyarakat yaitu dalam bentuk program mencerdaskan putra-putri bangsa dalam hal jurnalistik. Oleh karena itu peserta didik tidak boleh ketinggalan zaman yang notabene sudah masuk era globalisasi yang sudah maju dalam hal teknologi informasi, yang salah satunya melalui media informasi. Media harus menarik agar digemari oleh pembaca, baik melalui kelihaian dalam ilustrasi gambar dan perwajahan (layout). Contohnya saja Mading sekolah, kalau menarik maka akan mengundang banyak pembaca, tapi kalau biasa-biasa saja dan tidak menarik maka orang akan lewat begitu saja.
Disamping itu, beliau atas nama JPRM siap sedia datang dan berbagi ilmu jika diundang oleh SMP-SMP di Bangkalan. Hal ini senada dengan harapan dan pesan beberapa kepala sekolah bahwa peserta harus benar-benar mengikuti materi demi materi agar kegiatan ini benar-benar bermanfaat. Selanjutnya sambutan beliau tutup dengan sebuah epilog; kita terbelakang dalam hal informasi, berarti kita telah gagal menggenggam dunia. Dan ketika sudah gagal memegang dunia berarti kita telah kalah.

***

Tepat jam 09.46 sambutan-sambutan telah usai, memasuki acara selanjutnya yaitu pemukulan gong oleh kepala Disdik Kab. Bangkalan; M. Mohni disambut tepuk tangan yang meriah sebagai tanda dimulainya acara inti.


Ahaa....!! seperti apa sih acara inti dari kegiatan pelatihan dasar jurnalistik ini?. Yaps..! Terdiri dari 4 (empat) materi yang masing-masing disampaikan oleh pemateri yang memang kapabel dan concern dalam pewartaan. Mereka berasal dari crew JPRM sendiri. Durasi penyampaian materi sekitar satu jam-an .
Yuk..! kita ikuti resume materi-materi yang mereka sampaikan.
Waktu sudah menunjukkan jam 10.00 WIB. Gaya kocak dengan postur tubuh yang gagah, jiwa mudanya berapi-api, suasana forum menjadi cair dibanding forum “resmi” sebelumnya. Dialah Feri Ferdiansyah, Pimpinan Redaksi JPRM.
Materi “perkenalan dengan Jurnalistik” disampaikannya dengan bahasa membumi; bahasa remaja. Pria berjenggot kinyis-kinyis ini menjelaskan secara gamblang apa itu jurnalistik. Jurnalistik adalah bahasa latin dan dalam bahasa inggris biasa disebut journal yang artinya “catatan harian” atau diary. Dan dalam perkembangannya, arti jurnal yaitu catatan harian yang dipublikasikan/disebarkan/memberitakan. Dan orang yang bertugas memberitakan disebut jurnalis.
Waw...! ternyata kita-kita ini tidak merasa bahwa sebenarnya sudah menjadi jurnalis. Bayangkan..!, kita sering menulis secuil, secarik, atau hanya sebaris kalimat catatan harian. Entah itu tentang perasaan senang, benci, duka putus asa, marah, kesel, suwebel, dan lain sebagainya, khususnya bagi kita yang sedang dilanda kasmaran, cinta monyet..idih..!! sampe pake asiaran d facebook..!, hayoo ngaku... siapa yang sering curhat di-FB...??!
Nah.. kita menulis sebuah kalimat yang tersusun dari beberapa kata, dan kita publikasikan via jejaring sosial (FB atau Twitter), berarti secara tidak langsung sebenarnya kita sudah layak disebut sebagai jurnalis. Hebat....!
Itulah terminologi sederhana tentang jurnalistik yang dipaparkan oleh Mas Feri. Disamping itu dia juga menjelaskan tentang “berita” yang dalam bahasa inggrisnya biasa kita kenal dengan “news”, atau ada juga yang menafsiri berasal dari kata “new” yang berarti baru. Berita yang menarik adalah pasti tentang sesuatu yang baru terjadi/aktual. Kalau sudah usang, siapa yang mau membaca..?.
Ada juga yang menafsiri berita (news) merupakan sebuah akronim dari empat penjuru mata angin; N=north, E=east, W=west, S=south. Maksudnya adalah bahwa dimanapun, dari arah manapun, semuanya mengandung banyak kejadian atau peristiwa yang bisa kita jadikan berita atau kita beritakan pada orang lain.
Selain itu, Mas Pimred juga sedikit menyentil tentang kode etik jurnalistik, syarat sebuah berita (5W+1H), penulisan berita (piramida terbalik), cara mudah menjadi penulis, dan sebagainya.
Di akhir materi, dia curhat tentang riwayat kehidupan pribadinya, sejak masih anak-anak, dewasa, hingga masa-masa terdampar di IDIA PP. Al-Amin Prenduan Sumenep, aktifitasnya di LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) di kampusnya, hingga karirnya sebagai Pimpinan Redaksi di koran Radar Madura Grup Jawa Pos. Bahwa kekayaan dan hereditas (nenek moyang) tidak bisa menjamin seseorang bisa meraih cita-cita, karena Mas Feri sendiri berasal dari keluarga pas-pasan.
Selanjutnya adalah sesi pertanyaan berkenaan dengan materi ini. Waw..! sesi mendebarkan, banyak penjelasan materi yang tidak dipahami, banyak yang ingin ditanyakan, tapi tidak tahu bagaimana menanyakannya. Belum lagi gemeteran pegang microphone berdiri di depan peserta lain yang begitu bwanyaknya. Tak PeDe-lah...!.
Hah...! justru yang tampil pertama kali adalah sekolah dari gunung nun jauh disana, tapi bukan SMP Negeri 210 Bangkalan lho..!, melainkan ia adalah Sutila, siswi SMP Negeri 1 Kokop. Dia cukup PeDe.. pinter, dan tentu uwayuni nduk.., cantik, hem.... pah penasaran yang baca ya..!?. Sare dhibi’ kassa’...?!.
Setiap sesi pertanyaan dan atau bagi yang tampil diminta untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu; nama, asal sekolah, kepala sekolah, dan guru pembimbing yang mendampingi.

***

Jam sudah menunjuk angka 11.08 WIB, waktu semakin beranjak tua, dan tibalah saatnya materi yang kedua yaitu tentang permasalahan teknis pewartaan, meliputi pencarian fakta, wawancara, hingga penulisan berita. Sekilas dijelaskan juga macam-macam tulisan dalam suatu media, diantaranya adalah artikel dan opini dengan masing-masing jenisnya.
Yang didaulat memaparkan materi ini adalah Mas Hariyanto; koordinator liputan JPRM. Agak berbeda dengan pemateri sebelumnya (Mas Feri Ferdiansyah), dia santai dan sangat khas dengan gaya bahasa yang begitu laonan. Berhubung ini adalah materi agak teknis, dia mengambil metode praktek langsung. Lagi-lagi ini menjadi ajang unjuk ke-PeDe-an bagi para peserta. Dia meminta delegasi mana yang siap maju ke depan mempraktekkan langsung teknik wawancara.
Ups.....!!, lagi-lagi SMP Negeri 1 Kokop yang berani unjuk muka maju ke depan. Kali ini Sutila tidak sendirian, ia ditemani Bustomi maju ke depan. Sambutan aplause (tepuk tangan) riuh peserta lain menggema di seantero ruangan mengapresiasi ke-PeDe-an mereka berdua. Setelah diberikan arahan oleh fasilitator mereka langsung mempraktekkan wawancara. Tema yang dipilih adalah Laka Lantas (Kecelakaan Lalu Lintas). Sutila berperan sebagai wartawan mengajukan beberapa pertanyaan kepada Bustomi yang berperan sebagai Kabid Humas Kepolisian sebagai informan.
Mas Hariyanto memberikan apresiasi terhadap mereka berdua yang telah mempraktekkan layaknya wartawan dan informan beneran.
“Saya kalah dengan dua anak ini, kenapa? Karena ketika dulu saya masih seumuran mereka, saya tidak seberani mereka sekarang. Bagus...!” begitulah  kalimat apresiasi Mas hariyanto pada mereka disambut tepuk tangan yang begitu meriah.
Tidak hanya SMP Negeri 1 Kokop yang berani unjuk hidung maju ke depan mempraktekkan teknik wawancara. Duet SMP Negeri Tanjung Bumi dan SMP Negeri Modung juga unjuk kebolehan mempraktekkan teknik wawancara tersebut di hadapan peserta dengan tema Olah Raga.
Sesi praktek selesai tibalah saatnya sesi diskusi dan tanya jawab, Wa...! rupanya SMP Negeri 2 Sepulu punya unek-unek yang hendak diluapkan dalam bentuk pertanyaan juga. Weleh-weleh..! sayangnya pemateri membatasi hanya 2 penanya saja. Keburu lo’ nyapo’ pole se atanya’ah..!.

***

Jam sudah menunjukkan angka 12.16 WIB, tibalah saatnya ishoma (istirahat sholat makan). Bennnnaaar!!!, peserta lemas, lapar, BT. Khususnya dari SMP Negeri 2 Sepulu, Ha.!. Kemudian MC menginformasikan acara akan dilanjutkan jam 13.00 WIB setelah sholat dan makan, dan kepada guru pendamping untuk mewakili pengambilan konsumsi anak didiknya masing-masing.
Gurat lemas dan kusut pada wajah Mu’ammar, Abdus Salam, Putri Rohmah, Anisatul Khoiriyah, dan Nur Islamiyati menandakan ke-BT-an yang sudah memuncak karena sejak tadi duduk manis di ruangan. Mungkin juga karena lapar kalee... ya kan...?!. Tanpa pikir panjang Bapak pendamping segera menuju panitia pembagi konsumsi nasi.
E e e e e...!, ternyata disana sudah dijatah bungkusan kayak konsumsi kue pertama tadi, dibungkus kresek merah berisi 5 nasi kotak... Dolala....! alamat guru pendamping lo’ milo pole reh... Tidak apa-apa, yang terpenting anak-anak milo dulu.
Untuk mengencerkan otak yang sedikit beku dan BT karena sejak tadi berada dalam ruangan, akhirnya Kami sepakat menikmati konsumsi siangnya di luar ruangan sambil menghirup udara segar. Dipilihlah lokasi yang sejuk dibawah rimbunnya pepohonan lingkungan kodim, ada tempat santai cocok untuk makan lesehan Kami berenam.
Ayuk pah ngakan, mare, pah abhajang” Seru Bapak Pendamping.
Eh mereka “ogah” makan karena nasi kotaknya kurang satu; Bapak Pendamping nggak kebagian.
“Tore pak, pean juga, kita nggak mungkin makan kalau Bapak Pendamping tidak Makan” ujar Anisatul Khoiriyah setengah membujuk.
“Ya ya tunggu bentar tak ambil lagi ke panitia” tanggap Bapak Pendamping seraya bergegas menuju ke ruangan lagi. Hah... ternyata dipanitiapun hampir lo’ milo lagi, tinggal satu dua tiga kotak nasi lagi. Buru-buru menghampiri panitia yang bertugas.
“Mas Mas.. tu nasi ada yang punya nggak?, kelompok saya kurang satu” hatur Pak Anwar pada panitia.
“Ya ya silahkan” sambut panitia seraya memberikan satu kotak pada Bapak Pendamping.
Alhamdulillah, Tuh kan...! pasti ada saja cara menuju kenyang hehe..
“Ya ni dah dapat, yuk makan bersama..” Ucap Bapak Pendamping membuka acara makan bersama.
“Tore pimpin doa bersama” celoteh Nur Islamiyati dan Anisatul Khoiriyah.
Melihat Abdus Salam dan Putri Rohmah sudah membuka nasi kotak, ya Bapak Pendamping menjawab permintaan. “yuk kah berdoa sesuai dengan keyakinan masing-masing, dihati masing-masing” sambung Pak Anwar yang memang sudah memulai duluan.
Prosesi makan bersama berjalan lancar, ya pasti lancar dikarenakan memang sudah lapar. Sialnya, punya Nur Islamiyati tade’ cabbhina ngara. Niserra....!!
Selesai makan, Abdus Salam langsung semringah kembali dan bersemangat. Bukan semangat mau mengikuti materi selanjutnya. Eh... semangatnya malah berencana mau nglencer jalan-jalan di areal Kodim.
Ba... kakeh Dus, je’ man-kamman gillun, disini banyak senapan, pah bede peluru nyasar ge’en, atau pah elang e culik orang misalnya, pah engko’ kiya  se katempowan cong...!
Sedangkan Putri Rohmah dan Mu’ammar juga bersemangat, entah semangat mengikuti materi selanjutnya atau semangat pulang, nggak tau juga, entahlah..!.
 Setelah membereskan sampah dan membuangnya pada tempatnya, Bapak Pendamping tak sengaja bertemu di salah satu sudut lingkungan Kodim dengan Mas Yoyonk (Nur Rahmad Akhirulah, kru JPRM juga pemeteri selanjutnya), bincang-bincang santai ngalor-ngidul sok bharencah.

***

Selesai shalat dan dandan ala “srikandi”, jam sudah sampai 13.05 WIB pertanda acara akan dimulai. Maka Kami kembali ke aula untuk mengikuti materi selanjutnya yaitu tentang “Perwajahan media (Desain dan Layout) dengan pemateri Isbadiyatno (Layouter dan Copy Editor JPRM).
Secara garis besar, materi ini menjelaskan program aplikasi yang biasa digunakan Jawa Pos, keterkaitan antara keindahan layout dengan tingkat ketertarikan pembaca. Selain itu juga dipaparkan lugas oleh pemateri yang berbadan “sehat” ini yaitu tentang proses kerja redaksi meliputi; wartawan, redaktur, editor, dan layout. Begitu juga tata cara pemilihan foto, tata letak foto, dan lain sebagainya.
Materi ini selesai jam 13.45 WIB dan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Lagi-lagi hanya dibatasi dua penanya. Wah... kesempatan yang sempit ni...! dari pada tidak dapat jatah waktu lagi untuk bertanya. Akhirnya Nur Islamiyati, delegasi SMP Negeri 2 Sepulu memberanikan diri mengacungkan tangan meski agak malu-malu kambing. Disamping mungkin nggak tau yang mana yang mau ditanyakan.
Yach... akhirnya pemateri memberikannya kesempatan maju ke depan untuk menyampaikan unek-uneknya. Segenap peserta mengapresiasi keberanian cewek yang satu ini dengan iringan tepuk tangan dan aplause untuk SMP Negeri 2 Sepulu, Horaaa..... pakpakpakpak....!, kayak reng gu-toguh beih..

“Assalamu ‘alaikum Wr. WB, perkenalkan nama saya Nur Islamiyati, delegasi dari SMP Negeri 2 Sepulu, nama kepala sekolah saya Bapak Totok Gunarto, S.Pd, M.Pd, nama guru pendamping saya Bapak Anwar Nuris, S.Pd.I. disini saya akan bertanya.... bla... bla... bla....! Wassalamu ‘alaikum Wr. WB”
Wuih......!, pelafalan bahasa lancar, tanpa menunjukkan kekakuan dan rasa kikuk, penyebutan nama Kepala Sekolah dan guru pembimbing lengkap dengan gelarnya segala, (pola keng e apallagin sabellunna ye Nur..?!), hal ini memberikan nilai lebih dibanding dengan peserta yang lain. Sebab ada salah satu peserta tidak dari delegasi sekolah yang lain tidak tahu nama kepala sekolahnya, sehingga harus dibantu oleh guru pembimbingnya menyebutkan nama kepala sekolahnya.

Kesempatan untuk penanya kedua jatuh pada peserta delegasi SMP Negeri 1 Bangkalan. Anaknya masih kecil, mungil, tapi cerdas, dan gayanya penuh PeDe. Pertanyaannya berbobot menurut panitia kru JPRM karena berkenaan dengan hal yang prinsipil.
“Saya baca-baca Jawa Pos sempat ketemu iklan itu lho (Red. Tabu), kenapa Jawa Pos masih menampilkan kayak gituan bukankah jawa pos pembacanya tidak hanya orang yang tua-tua saja, tetapi yang muda dan anak-anak juga membacanya?”
Mablus....! waw....! membuat para kru JPRM harus mengernyitkan dahi disambut aplause meriah dari audien yang lain.

***

Ini adalah materi terakhir. Mas Nur Rahmad Akhirulah yang akrab disapa Yoyonk ini didaulat menyajikan materi tentang Media Sekolah. Dia dikenal oleh teman-teman kru JPRM yang lain sebagai “artisnya JPRM”.
Penampilannya memang nicis bin kinyis-kinyis, perfect, bersih, putih, dan tentu kutilang (kurus tinggi langsing), dengan dagu sedikit dibalut beberapa helai janggut menambah ke-machoa-annya sebagai kru yang masih muda. Jangan-jangan ada peserta yang nwaksier ni ye... gayanya menyampaikan materi kocak, lugas, dan bersahabat.. ditambah trik yang dia lakukan dengan membagi-bagi kaos bagi peserta yang bisa menjawab, bertanya, dan tampil unjuk gigi ke depan menambah semangat para peserta.
Hujan mengguyur bumi, dan selama satu jam (14.15 s.d. 15.06 WIB) Mas Yoyonk menyajikan materi tentang manfaat media sekolah, struktur dewan redaksi berikut alur kerjasamanya, rubrikasi, jenis-jenis media sekolah, hingga kendala-kendala yang biasa dihadapi suatu media sekolah. Materi ini berakhir tanpa ada sesi tanya jawab, mengingat waktu sudah beranjak petang.

***



Sebelum berangkat, ada jeda waktu sebentar Kami delegasi SMP Negeri 2 Sepulu menggunakannya untuk foto bareng dipanggung, dengan latarbelakang banner besar yang bertuliskan kegiatan yang sudah berlangsung. Bukti bahwa Kami adalah bagian dari para jurnalis Jawa Pos Radar Madura, koran harian yang pernah memenangkan Wan IFRA internasional.
E e e e e... ternyata kelompok Kami adalah perintis “narsis” bareng. Karena setelah itu delegasi dari sekolah-sekolah yang lain jadi ikut-ikutan naik panggung dan foto bersama juga. Kami malu-maluin? Biarkan saja, tak perlu dihiraukan, dari pada Kami menyesal dikemudian hari, tidak ada oleh-oleh yang bisa dibawa ke SMP Negeri 2 Sepulu lebih-lebih ke rumah masing-masing. Siapa dulu fotografernya???? Sayang sekali gak ada foto fotografernya sama sekali. Tidak apa-apa, yang penting kalian sudah mendapatkan yang terbaik itu sudah mewakili kebahagiaan sang fotografer. Hiks..hiks..hiks...

***

Acara selanjutnya yaitu kunjungan ke dapur redaksi JPRM, Jl. Halim Perdana Kusuma Bangkalan, depan jalan raya depannya Hypermat MATAHARI, disamping pintu masuk perumahan NILAM.
Mendengar kata “dapur redaksi” bukan berarti dapur yang biasa kita kenal (masak-memasak, banyak the letheng, dan lain sebagainya), Dapur Redaksi yang dimaksud adalah tempat segala aktifitas para kru media dalam memproses dan mengolah pewartaan hingga menjadi suatu berita yang layak terbit dan layak baca.
Rencana awal, Mu’ammar tidak perlu ikut serta ke kantor JPRM mengingat kondisinya yang belum fit benner dan rentan jika harus naik roda empat/lebih. Konsekwensinya adalah harus ada teman yang menemaninya di Kodim, solusinya adalah Abdus Salam yang menemani dan tidak perlu ikut juga ke lokasi.
Bapak Pendamping harus putar otak, bagaimana caranya agar anak-anak bisa ikut semua kesana. Ting...! hem ilham muncul; hubungi panitia mungkin ada yang bawa sepeda motor dan bisa membantu memboncengkan Mu’ammar. Ya ada, Mas Syahid dengan keramahannya siap sedia “membawa” Mua’ammar ke lokasi. Pria yang bertugas sebagai marketing JPRM ini cekatan dan langsung mengajak Mu’ammar ikut motor miliknya.
Selesaikah masalah!? Oh ternyata belum, lantas bagaimana pulangnya nanti ke SMP Negeri 2 Sepulu, tidak mungkin diikutkan mobil lagi. Aha.... setelah di-calling, Bapak Wakil Kepala Sekolah, Ainul Yakin, S.Pd siap menjemput ke lokasi JPRM dan mengantarnya ke SMP Negeri 2 Sepulu. Tetapi setelah beliau menyelesaikan urusannya terlebih dahulu. Kebetulan beliau ada keperluan di DISPENDUK, biasa Pak Charek..!, bukan Pak Charok lhe...!.
Ditengah-tengah gerimis ringan, tiga truk TNI sudah siap berangkat, para peserta dari berbagai delegasi sudah menaiki bok truk. Sesak, lo’ milo tempat duduk, masak harus berdiri?, tak carikan solusi supaya mereka bisa duduk juga, sebab Putri Rohmah kelihatannya lemas lunglai jika ada di bok belakang.
Setelah melakukan negoisasi dengan para sopir, akhirnya mereka mendapat tempat duduk empuk khusus di depan bersama sopir. Abdus Salam ada bersama sopir truk no. 2. Sedangkan Anisatul Khoiriyah, Putri Rohmah, dan Nur Islamiyati duduk di depan bersama sopir truk no. 3. Bapak Pendamping-nya dimana? Jangan-jangan ketinggalan, atau jangan-jangan gak ikut. Beliau ikut truk no. 2 tapi di bok belakang, naddhek pole. Kacian dech..!!!.

***

Setelah lima belas menit perjalanan akhirnya sampailah ke lokasi. Terpampang jelas memanjang di depan atap lantai dua tulisan Radar Madura Jawa Pos. Terdiri dari tiga lantai. Lantai dasar terdapat ruang tamu, ruang pimpinan, para kru, bidang resepsionis mungkin, dan lain-lain.
Masuk lihat-lihat isi ruangan sebentar, tiba-tiba muncul Mas Pimpinan Redaksi; Feri Ferdiansyah dari ruangannya, langsung Kami “culik” untuk foto bersama. Tapi sebelumnya sudah minta izin dulu lah, Aha... direstui pah langsung jeprat-jepret. Selesai dan terima kasih dihaturkan padanya. Lha...ta’ iye..! kelompok yang lain akhirnya juga ikut-ikutan minta Mas Feri foto bersama.
Incaran untuk narsis bareng tinggal satu, General Manager JPRM; M. Tojjib. Sambil menunggu beliau sebab tidak muncul sejak tadi, akhirnya Bapak pendamping mengurus terlebih dahulu sertifikat kepesertaan kegiatan di panitia. Ternyata sertifikat milik Mu’ammar tidak ada, karena memang belum tercetak.
Sambil menunggu keputusan panitia, Kami melanjutkan penjelajahan ke seluk-beluk kantor, dan ternyata diluar sana di sebrang jalan Bapak Yakin, S.Pd baru turun dari sepeda motornya, beliau menepati dawuh-nya untuk datang ke kantor JPRM (terima kasih pak, meski kami tahu Bapak Yakin juga belum fit benar alias masih sakit).
Setelah membantu mengarahkan ke tempat parkir milik kantor JPRM, Kami langsung mengajak jalan-jalan Bapak Wasek untuk ikut serta menjelajahi isi dan seluk beluk kantor.
Bersama beliau, Kami naik ke lantai dua.  Di sana Kami temukan ruangan yang didalamnya berjejer beberapa komputer berhadap-hadapan (kayak Lab. Komputer atau warnet lah). Komputer-komputer tersebut sudah ada pembagian tugas dan fungsinya, yang juga dioperasikan oleh kru sesuai dengan tugasnya masing-masing. Ada bagian layout teks, layout gambar, editing, copy writer, dan lain sebagainya. Ada satu meja pimpinan, disana menumpuk print out koran-koran yang siap dicek oleh pimpinan redaksi (Feri Ferdiansyah).
Menurut keterangan Pimpinan Redaksi; Alur secara umum produksi koran ini yaitu; jam 13.00 s.d. 16.00 para wartawan/reporter harus sudah mulai menulis dan menyusun berita minimal 4 (empat berita). Berarti sebelum jam tersebut harus turun lapangan untuk mencari fakta dilapangan sebagai data untuk penyusunan berita. Setelah selesai menyusun dan menuliskan beritanya, mereka menyetorkannya pada redaktur pelaksana minimal jam 16.00 untuk di cek isi beritanya, berlanjut ke copy editor bahasa untuk dicek tata penulisan dan tata bahasanya.


Baru kemudian masuk ke bagian layouter untuk dimasukkan ke dalam halaman koran, di atur tata letaknya sedemikian rupa, baik teks, gambar, ilustrasi, maupun yang berupa foto. Setelah itu diprint out dan masuk ke pimpinan redaksi untuk di cek kembali secara keseluruhan. Pimpinan redaksi disini sebagai hakim akhir apakah berita ini layak terbit atau tidak.


Setelah pimpinan redaksi memutusk  an layak terbit, maka jam 22.00 langsung dikirim dalam bentuk file ke kantor pusat percetakan di Graha Pena Jawa Pos di Surabaya. Kemudian dikirimkan kembali dalam bentuk koran siap baca ke berbagai daerah per kabupaten (untuk Radar Groups milik Jawa Pos).
Dilantai dua masih sempat Kami foto bersama dengan latar belakang plat “Jawa Pos Radar Madura, Korannya orang Madura” yang ada di ruangan tersebut, tak ketinggalan juga dengan latarbelakang Hypermat MATAHARI diseberang jalan raya sana. Sebagai ganti Kami kesana lah...Widih......!!! sara ellu’ narsissah..!
Sudah beres dilantai dua, tinggal misi selanjutnya; mengincar General Manager JPRM, M. Tojjib. Yang Kami incar ternyata berada di depan kantor diluar langsung Kami “culik” tapi tetap sopan untuk foto bersama. Ning-ning munyina jham, pak yakin a batik koning bunten lo’ ollena nginjham.
 Misi terakhir dari kunjungan tersebut adalah foto session bersama seluruh peserta di depan kantor JPRM. Ada yang dari lantai dua dan ada yang berpose dilantai dasar depan papan panjang JPRM. Wuih... gaul khan...!!!, yang baca dan yang gak ikut jangan ngiri... dikemudian hari para jurnalis Jawa Pos akan datang ke SMP Negeri 2 Sepulu; jika diundang! hehe. Dan kita semua bisa foto bareng dengan Ceo Jawa Pos; Bapak Dahlan Iskan (Allahumma thawwil ‘umurohu). Mantan Direktur PLN, dan sekarang menjabat sebagai Menteri BUMN.
Sambil menunggu angkot yang akan membawa Kami kembali ke tempat dimana Kami berangkat (Sepulu), Nur Islamiyati mengapresiasikan kebahagiaanya via akun Facebooknya; Nuriz Ciuz, dengan meng-oploud foto dirinya dan teman-teman sedelegasi saat narsis bareng di  panggung, di depan backround kegiatan. “Ternyata menjadi jurnalis sehari itu seru, asyik, dan menyenangkan.. semoga hari ini terulang lagi” celotehnya distatus. Kesan ini tidak hanya dirasakan oleh dia semata. Peserta yang lain pun bisa dipastikan juga merasakan hal yang sama.
Fase demi fase sudah terlewati, sesi per sesi usai sudah, satu satu delegasi pulang kandang masing-masing dengan seabrek kesan tentunya. Tak terkecuali delegasi SMP Negeri 2 Sepulu, meskipun kelu berbalut lesu menyelimuti namun tetap terbayar oleh secuil kepuasan dan ketidakpuasan sekaligus. Puas karena berhasil mengikuti kegiatan hingga akhir. Ketidakpuasan karena dari materi jurnalistik dasar yang baru saja dikenyam, masih banyak ilmu jurnalistik lanjutan lain yang belum dilalui dan dipelajari. Harapan besar! Semoga JPRM menfasilitasi kembali serta menindaklanjuti materi jurnalistik lanjutan di lain kesempatan.
Tak berselang lama, datanglah  mobil L300 asal Ketapang-Sampang yang tentunya lewat Kecamatan Sepulu yang siap membawa Kami boyong kampung. Mu’ammar si bocah lemas ini terpaksa “ditebengkan” pada Bapak Ainul Yaqin, S.Pd demi keamanan dalam perjalanan. Dalam perjalanan pulang, anggota rombongan menghubungi penjemput masing-masing agar langsung dijemput di Ahatan Sepulu.
Satu jam lima belas menit berlalu, tak terasa jam sudah 17.18 WIB dan Kami telah tiba di Ahatan Sepulu. Tak berselang lama para penjemput pun berdatangan, meski bukan dijemput oleh orang yang direncanakan  sebelumnya, siapapun penjemputnya masing-masing Kami tetap wajib pulang sebelum kemalaman.



Sepulu, 20 – 21 Februari 2014